Potongan Dana Bantuan Jatuh, Satu Juta Wanita Terbantu: PBB

Setidaknya satu juta perempuan dan anak perempuan kehilangan akses bantuan penting dalam 18 bulan terakhir akibat pemotongan dana bantuan global. Menurut laporan UN Women, organisasi yang melayani perempuan justru mengalami kenaikan permintaan, namun 90 persen dari mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar karena dana terus berkurang.

Amerika Serikat adalah negara donor pertama yang memangkas belanja bantuan luar negeri pada 2025. Sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat, anggaran bantuan asing Washington menyusut lebih dari setengahnya bersamaan dengan pembubaran USAID. Negara-negara donor besar lain seperti Jerman, Perancis, dan Inggris ikut mengurangi sumbangan, terutama karena tekanan anggaran domestik dan kewajiban belanja pertahanan.

“Organisasi perempuan yang terancam tutup ini berada di garis depan krisis kemanusiaan paling parah,” kata Sofia Calltorp dari UN Women. “Setiap dolar ditarik dari organisasi perempuan adalah dolar ditarik dari korban kekerasan seksual, ibu yang terusir, gadis yang putus sekolah, dan masyarakat yang berjuang.”

Laporan tersebut menyurvei 855 organisasi di 52 negara rentan termasuk Kongo, Haiti, dan Afganistan. Sekitar 40 persen di antaranya berpotensi tutup sementara atau permanen dalam setahun. Enam puluh persen organisasi melayani lebih sedikit perempuan dibanding tahun lalu meski kebutuhan justru meningkat. Separuh organisasi harus membuat daftar tunggu atau menolak kedatangan perempuan dan gadis.

Semua organisasi melaporkan bahwa kondisi perempuan yang mereka layani semakin miskin dan anak perempuan banyak yang putus sekolah. Di saat kekerasan seksual terkait perang meningkat dua kali lipat, 62 persen organisasi kehilangan tempat aman dan mengurangi layanan penanganan kekerasan.

MEMBACA  Anies mengungkapkan bahwa 45 juta orang belum bekerja secara layak.

Tinggalkan komentar