Kemarahan memuncak di jalanan setelah jasad korban ditemukan. Massa merusak jalanan, toko, dan stasiun kereta setempat. Seorang pemuda tewas dipukuli oleh massa—Kepala Menteri Suvendu Adhikari kemudian menyatakan bahwa pemuda itu tidak bersalah.
Beberapa petugas polisi terluka dan kendaraan rusak saat mereka berusaha membendung massa. Polisi telah mencatat tiga laporan kasus dan menahan 40 orang sejauh ini.
Wilayah itu masih tegang. Polisi melarang orang berkumpul dan menyiagakan banyak personel polisi serta paramiliter agar situasi tetap terkendali.
Kerusuhan ini menjadi tantangan besar bagi partai BJP, yang baru pertama kali berkuasa di Bengal Barat pada bulan Mei dengan janji besar untuk membuat negara bagian itu aman bagi perempuan.
Analis mengatakan, salah satu alasan utama Menteri Utama Mamata Banerjee kalah dalam pemilu adalah semakin besarnya kekhawatiran tentang keselamatan perempuan dan penanganan buruk pemerintahannya terhadap kasus pemerkosaan dan pembunuhan seorang dokter muda di rumah sakit pemerintah.
Kasus ini juga sudah terjerat kontroversi politik, dan mulai bergeser ke nuansa agama—korbannya adalah seorang Muslim, sementara pria yang ditahan adalah Hindu.
Rumah politisi lokal BJP, Sushant Mondal, diserang dan dirusak oleh massa yang menuduhnya membantu para tersangka. Ia membantah tuduhan itu dan mengatakan tuduhan itu “palsu”, dan bahwa ia sebenarnya “telah membantu menangkap para pelaku”.
Untuk meredakan kemarahan publik, Menteri Utama Suvendu Adhikari mengunjungi desa itu pada hari Selasa dan menemui keluarga korban.
“Pemerintah kami berkomitmen untuk mencegah kejadian seperti ini lagi di negara bagian ini. Polisi tengah menjalankan tugasnya. Keluarga sudah bicara dengan saya. Mereka telah kehilangan putri yang sangat mereka cintai. Saya yakin mereka puas setelah bicara dengan saya.”
Namun, belum sampai 24 jam berselang, Prabhash Mondal tewas dalam “baku tembak dengan polisi”.
Dalam pernyataan Rabu pagi, polisi Baruipur mengatakan Mondal dibawa ke kolam untuk merekonstruksi adegan kejahatan sebagai bagian penyelidikan. Namun dia mencoba merebut senjata petugas dan menembak ke arah mereka.
Polisi membalas dan menembaknya. Tersangka yang terluka dilarikan ke rumah sakit, tapi dia dinyatakan meninggal,” demikian pernyataan polisi.
Walau tuduhan terhadap Moody-Mondal belum terbukti, ibunya tampaknya sudah menganggapnya bukan lagi anak kandungnya dan menolak menerima jenazah.
“Dua polisi datang ke rumah saya. Waktu itu saya baru bangun tidur. Mereka bilang anak saya meninggal dan tanya apakah saya mau ke rumah sakit. Saya bilang tidak bisa karena suami saya sedang sakit,” katanya kepada kantor berita ANI.
“Saya bilang, terserah kalian mau apa. Saya tidak keberatan. Anak saya sudah dihukum sesuai perbuatannya. Saya tidak akan menerima jenazahnya. Saya malah tidak akan membawa pulang jasadnya,” lanjutnya.
Politisi oposisi dan aktivis hak asasi mempertanyakan pembunuhan ini, mengatakan hal itu melanggar hukum.
Ranjit Sur dari Asosiasi Perlindungan Hak Demokrasi menyebut perkara yang terjadi “mencurigakan”.
Sur mengatakan, hikayat peristiwa semacam baku tembak dengan polisi di beberapa negara bagian di India serupanya sama Persis—tersangka mencoba merebut senjata polisi untuk kabur, lalu tewas tertembak.
Pada tahun 2019, peristiwa serupa terjadi TKP setelah empat pria yang dituduh memperkosa dan membunuh seorang perempuan muda di Hyderabad tewas di tangan polisi dalam sebuah baku tembak.