Tujuh anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, sepakat untuk menambah produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari.
Putusan itu diumumkan pada Minggu (6/7/2026) setelah para pejabat menggelar rapat virtual untuk meninjau kondisi dan prospek pasar global. Ini adalah kenaikan produksi kelima kalinya secara berturut-turut dalam beberapa bulan terakhir. Langkah ini melanjutkan pengurangan pemangkasan produksi yang sudah dimulai sejak 2023.
Sebelumnya, kelompok OPEC+ memangkas produksi pada April dan November 2023, setelah serangkaian bank bangkrut yang memicu aksi jual besar-besaran di pasar minyak dan komoditas lainnya. Namun, kini pasar energi mulai menunjukkan tanda pemulihan, meski masih dibayangi dampak perang AS-Israel melawan Iran.
Dalam pernyataannya, OPEC+ mengatakan negara-negara anggota akan terus memantau dan menilai kondisi pasar. Mereka juga menekankan pentingnya bersikap hati-hati namun tetap fleksibel, bisa menambah, menghentikan sementara, atau bahkan membalikkan rencana penyesuaian produksi secara sukarela.
Selain Saudi dan Rusia, negara lain yang ikut serta adalah Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. Mereka akan bertemu lagi pada 2 Agustus untuk meninjau perkembangan terbaru. Harga minyak Brent sempat tembus 126 dolar AS per barel pada April, tapi akhir-akhir ini sudah turun ke level sebelum perang.
Harapan akan adanya gencatan senjata permanen di Iran dan kembalinya pengiriman normal di Selat Hormuz menjadi pendorong penurunan harga tersebut. Lalu lintas kapal di selat itu memang mulai meningkat sejak Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang pada 17 Juni lalu, tapi jumlahnya masih jauh dari normal sebelum konflik.
Pada 2 Juli, hanya ada 38 kapal yang tercatat melintas, bandingkan dengan sekitar 130 kapal setiap hari sebelum perang. Harga minyak Brent untuk pengiriman September berada di 72 dolar AS per barel, lebih rendah dari harga penutupan 72,48 dolar AS pada 27 Februari, sehari sebelum AS dan Israel menyerang Iran.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang sebelumnya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global, memaksa anggota OPEC+ memangkas produksi drastis. Total produksi OPEC+ turun menjadi 33,13 juta barel per hari pada Mei, dari 42,77 juta barel per hari pada Februari, menurut data resmi.
Analis pasar dari IG di Sydney, Fabien Yip, menyebut kenaikan produksi terbaru OPEC+ ini lebih bersifat formalitas belaka, mengingat kondisi real di lapangan. Ia menjelaskan kenaikan harga minyak beberapa bulan terakhir terhambat blokade Teluk Hormuz, membuat pasokan jauh di bawah kuota.
Tapi, kendala itu sekarang mulai berkurang sehingga harga justru turun. Arabia Saudi sudah menggandakan volume pengiriman sejak 17 Juni, mencapai lebih banyak dari menggabung tiga bulan sebelumnya. Iran pun sudah mendorong mendekati 50 juta barel minyak mentahnya ke pasar sejak blokade laut AS berakhir.