Indeks dolar (DXY00) naik 0,19% pada hari Rabu. Dolar menguat karena imbal hasil T-note naik setelah Ketua Fed Warsh tidak memberikan petunjuk soal suku bunga di pertemuan bank sentral di Portugal. Dolar juga mendapat dukungan setelah euro melemah akibat laporan CPI Zona Euro bulan Juni yang menunjukkan kenaikan harga lebih rendah dari perkiraan. Selain itu, yen yang jatuh ke level terendah dalam 39 tahun juga mendukung dolar.
Namun, dolar kemudian turun dari level tertingginya setelah data perubahan tenaga kerja ADP Juni naik lebih rendah dari perkiraan dan indeks manufaktur ISM Juni turun lebih dari perkiraan. Penurunan harga minyak mentah WTI ke level terendah 4,25 bulan juga meredakan ekspektasi inflasi dan bisa mendorong The Fed melonggarkan kebijakan moneternya, yang menjadi faktor negatif bagi dolar.
Data ADP menunjukkan perubahan tenaga kerja AS bulan Juni naik 98.000, lebih lemah dari ekspektasi 120.000. Indeks manufaktur ISM Juni turun 0,7 poin ke 53,3, juga lebih lemah dari perkiraan 53,9. Sub-indeks harga yang dibayar ISM Juni turun 9,1 poin ke level terendah 4 bulan di 73,0, lebih rendah dari perkiraan 77,5. Pasar swap memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga 25 bp di pertemuan FOMC berikutnya pada 28-29 Juli hanya 27%.
EUR/USD pada hari Rabu turun 0,37%. Euro tertekan oleh dolar yang lebih kuat dan juga oleh data CPI Zona Euro Juni yang menunjukkan harga konsumen melambat lebih dari perkiraan. Ini menjadi faktor yang mendorong ECB untuk melonggarkan kebijakan. Euro juga kian jatuh setelah pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde yang mengatakan risiko inflasi dan pertumbuhan kini lebih seimbang.
Inflasi Zona Euro Juni turun ke 2,8% y/y dari 3,2% di bulan Mei, di bawah perkiraan 3,0%. Inflasi inti Juni juga turun ke 2,4% dari 2,6%, lebih rendah dari perkiraan 2,5%. Sementara itu, PMI manufaktur Zona Euro Juni naik 0,1 poin menjadi 51,4. Pasar memperkirakan hanya 4% kemungkinan ECB menaikkan suku bunga 25 bp pada pertemuan 23 Juli.
USD/JPY pada hari Rabu turun tipis 0,01%. Yen pulih dari level terendah dalam 39 tahun dan naik tipis setelah hasil survei Tankan manufaktur besar kuartal kedua naik tak terduga ke level tertinggi 8 tahun. Yen awalnya melemah karena sentimen konsumen Jepang Juni lebih lemah dari perkiraan dan aktivitas manufaktur direvisi turun. Kekhawatiran bahwa BOJ lambat dalam menormalkan kebijakan moneternya juga masih membebani yen.
Risiko intervensi di pasar valas untuk mendukung yen meningkat setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama berbicara dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Mereka sepakat untuk mengambil langkah “berani” terkait mata uang jika diperlukan. Dengan yen di atas 160 per dolar (level terendah 39 tahun), risikointervensi bertambah karena otoritas Jepang sering turun tangan di level tersebut.
Indeks kepercayaan konsumen Jepang Juni naik 0,2 ke 33,8, di bawah ekspektasi 34,1. Tankan manufaktur besar kuartal kedua malah naik 0 poin ke 22, lebih tinggi dari perkiraan yang seharusnya turun ke 16. PMI manufaktur Jepang Juni direvisi turun 0,1 ke 54,8. Pasar hanya memperkirakan kemungkinan 3% BOJ menaikkan suku bunga 25 bp pada pertemuan 31 Juli.
Emas COMEX Agustus pada Rabu ditutup naik 43,90 dolar (+1,09%) dan perak COMEX September naik 0,589 dolar (+0,98%). Emas dan perak pulih dari posisi terendah awal hari dan naik tajam. Data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan, seperti ADP yang mengecewakan dan ISM yang turun, mendukung harga. Penurunan harga minyak juga mengurangi ekspektasi inflasi, yang bisa mendorong bank sentral melonggarkan kebijakan.
Logam mulia juga dapat dukungan karena waspada terhadap konflik Timur Tengah, di mana Iran mengklaim mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz. Data CPI Zona Euro yang lemah juga mendorong harapan ECB untuk melonggarkan kebijakna. Namun, di awal sesi logam mulia turun karena dolar kuat dan imbal hasil T-note naik. Laporan dari pejabat AS yang mengatakan perundingan teknis dengan Iran positif juga menekan permintaan safe haven.
Dana likuidasi jangka panjang dalam ETF emas masih menjadi faktor negatif, di mana kepemilikan dana ETF emas turun ke level terendah 9 bulan pada hari Senin. begitu juga dengan ETF perak, yang turun ke level terendah 11 bulan.Seiring permintaan logam mulia melemah, beli bank sentral untuk emas tetap kuat. Harga emas didukung karena China kembali menambah cadangan emasnya untuk bulan kesembilan belas berturut-turut di bulan Mei.