Cuaca panas ekstrem yang melanda Eropa belakangan ini, bukan disebabkan oleh El Nino, melainkan karena pemanasan global yang semakin parah. Hal ini diungkapkan oleh peneliti dan pegiat lingkungan.
Di beberapa negara, suhu mencapai 40 derajat Celcius. Gelombang panas ini bahkan telah menewaskan 1.300 orang di Eropa selama bulan Juni.
Menurut laporan, cuaca panas di tahun 2026 ini disebut 100 kali lebih ekstrem dibandingkan gelombang panas besar yang melanda Eropa pada tahun 2003. Sebuah pemberitaan dari France24 pada akhir Mei 2026 lalu sudah memperingatkan bahaya pemanasan global ini.
Fenomena yang disebut sebagai “kubah panas” ini terjadi ketika udara hangat dari Afrika utara terperangkap di bawah sistem tekanan tinggi di Eropa bagian barat. Padahal, kondisi seperti ini biasanya baru muncul pada puncak musim panas.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus milik Uni Eropa menjelaskan, perubahan sirkulasi atmsofer serta sistem tekanan tinggi yang semakin sering muncul membuat gelombang panas lebih intens. “Kini cuaca lebih stabil tapi suhunya lebih tinggi,” kata Direktur Copernicus, Carlo Buontempo.
Salah satu penyebab lain adalah letak Eropa yang dekat dengan Arktik. Arktik memanas 3,2 derajat Celcius lebih tinggi dibanding suhu pra-industri. Peningkatan ini terjadi karena salju dan es di Kutub Utara mencair. Es yang berwarna putih tadinya memantulkan panas, dan setelah mencair, tanah gelap dan laut yang terbuka akan t5erus menyerap panas dan membuat es mencair lebih banyak lagi. Hal ini memicu peningkatan panas terus menerus.
Meski demikian, masih ada yang berpendapat bahwa penyebab cuaca panas di Eropa bukan karena pemanasan global. Tetapi fakta di lapangan mengatakan sebaliknya.