Jakarta (ANTARA) – Mentri Pariwisata Indonesia sekarang lagi kerja keras untuk ningkatin ketersedian produk halal di semua tempat wisata. Tujuannnya, biar kualitas wisata ramah Muslim di negara kita makin baik.
"Kami sudah bicara dengan para pemangku kepentingan di desa-desa wisata. Mereka kami minta untuk benar-benar siapkan produk halal, termasuk urus sertifikat halalnya," ujar Vinsensius Jemadu, Ahli Utama Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dari kementrian itu, kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Dia bilang, Indonesia punya keunggulan kompetitif yang kuat dalam soal wisata ramah Muslim berkualitas tinggi, terutama di bidang Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE).
Data portofolio pariwisata menunjukkan, 60 persen dari turis asing yang dateng ke Indonesia itu mencari pengalaman budaya. Lalu, 30 persen lainnya tertarik dengan alam, dan sisanya mengunjungi tempat wisata buatan.
Dalam konteks wisata ramah Muslim, Jemadu terangin bahwa pemerintah ingin menawarkan produk halal yang terintegrasi dengan alam dan budaya. Ini termasuk promosi pengalaman seru seperti wisata bahari, diving, dan juga surfing.
Pemerintah juga terus ngawasin ketersediaan produk halal di berbagai daerah. Upaya ini terutama diperluas di 13 kawasan yang saat ini dikembangkan Kementrian Pariwisata sebagai destinasi ramah Muslim, mencakup Sumatra Barat, Jakarta, Bandung, sampai Banten.
Jemadu negasin kalo kementriannya terus koordinasi sama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) masalah sertifikasi halal. Sertifikat ini tidak hanya buat makanan dan minuman, tapi juga buat barang-barang yang ada di jasa akomodasi dan sektor pelayanan.
Ia nambahin, menterinya punya tekad kuat buat rebut posisi teratas dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) sebagai destinasi ramah Muslim no.1 di dunia. Tahun ajaran 2025-2026 lalu, Indonesia sebenarnya ada di posisi ke-5, lalu meloncat ke peringkat 3 di tahun ini (shared 3 with Saidi Arabia)*.
Peringkat terbaru ini menempatkan Indonesia di bawah Malaysia, sementara berbagi tempat kedua dengan Saudi Arabia dan Turki.
Sebelumnya, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana udah bilang bahwa kementriannya terus memperkuat ekosistem wisata ramah Muslim kerja sama dengan BPJPH.
Hingga 29 Mei 2026, dari kerja sama ini sudah ada 31.548 sertifikat halal yang dikelurin buat para pelaku usaha di 1.116 desa wisata yang tersebar di 34 provinsi.