3 Orangutan Dilepaskan ke Alam Liar di Hutan Lindung Kutai Timur

Kementerian Kehutanan melepasliarkan tiga ekor orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) kembali ke habitat alaminya di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Menurut keterangan resmi di Jakarta, Kamis, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau, dan Center for Orangutan Protection (COP) melepasliarkan tiga orangutan bernama Bagus, Eboni, dan Ruby pada 23 Juni lalu.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, mengatakan bahwa rehabilitasi orangutan adalah proses yang panjang, biasanya berlangsung antara dua hingga enam tahun.

“Ketiganya sudah diamati bisa beradaptasi dan hidup mandiri di pulau pra-liar, jadi mereka dinyatakan siap untuk kembali ke hutan,” ujarnya.

Ia menjelaskan ketiga orangutan memiliki latar belakang yang sama, yaitu dipelihara warga sebelum diselamatkan. Bagus diselamatkan oleh BKSDA Kalimantan Timur pada awal September 2020 di Desa Merabu, Berau; Eboni dievakuasi akhir April 2022 di Desa Long Beliu, Berau; dan Ruby dievakuasi awal April 2024 di Desa Persiapan Sekurau Atas, Kutai Telah.

Sebelum kembali ke alam, ketiganya menjalani rehabilitasi di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA).

Orangutan yang dipelihara dalam kurungan dalam waktu lama sering kehilangan keterampilan bertahan hidup yang penting, seperti memanjat, mencari makan, dan membangun sarang.

Di pusat rehabilitasi, mereka menjalani serangkaian tahapan, termasuk pemerikasaan kesehatan, pelatihan sekolah hutan untuk mempelajari ulang keterampilan bertahan hidup, dan masa adaptasi selama empat bulan di pulau pra-liar.

Total 18 orangutan hasil rehabilitasi di BORA telah dilepasliarkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat dalam empat tahun terjkahir.

Tim pemantau COP akan memantau pergerakan Bagus, Eboni, dan Ruby selama tiga bulan ke depan untuk memastikan mereka aman dan beradaptasi dengan baik di habitat hutan.

MEMBACA  Gibran Meminta Menteri Pariwisata Menggelar Acara dan Konvensi di Lokasi Pasca-Bencana untuk Memulihkan Ekonomi Lokal

Tinggalkan komentar