Bukankah agak ironis bahwa seseorang yang secara profesional memerankan orang lain justru memimpin upaya melindungi identitas manusia di era kecerdasan buatan? Mungkin, tapi toh tidak ada pihak lain yang melakukan hal seruma.
Pada Selasa lalu, peraih multi-penghargaan Academy Award, Cate Blanchett, mengumumkan peluncuran Human Consent Registry, sebuah alat baru yang dirancang untuk membantu orang mengontrol kemiripan diri mereka dan bagaimana hal itu dapat digunakan oleh sistem AI.
Alat yang dirilis oleh organisasi nirlaba Blanchett, RSL Media, ini memungkinkan individu di Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk membuat rekam jejak digital yang akan menentukan bagaimana identitas mereka boleh digunakan oleh AI. “Identitas Anda adalah kekayaan intelektual Anda, dan setiap orang berhak memiliki cara yang jelas untuk menyatakan apa yang boleh dan tidak boleh digunakan oleh sistem AI,” demikian pernyataan organisasi tersebut dalam sebuah siaran pers.
Cara kerja registri ini
Setelah membuat akun, pengguna akan dihadapkan pada formulir yang meminta data biografis seperti nama dan profesi, serta cara untuk menandai identitas, misalnya melalui situs web atau akun media sosial. Pengguna kemudian memilih tingkat “izin penggunaan AI” yang disusun seperti lampu lalu lintas: Dilarang (merah), Diizinkan dengan Syarat (kuning), atau Diizinkan (hijau). Setelah selesai, setiap orang akan memiliki ID Persetujuan Manusia yang dapat diperiksa oleh sistem AI sebelum memasukkan bagian apa pun dari kemiripan seseorang ke dalam data pelatihan mereka.
“Identitas Anda adalah kekayaan intelektual Anda di era AI, dan setiap orang berhak menentukan bagaimana AI bisa atau tidak bisa menggunakanya,” kata Blanchett. “Human Consent Registry gratis dari RSL Media memberi setiap orang suara dan cara untuk mengambil tindakan terkait izin AI, membantu menjaga dan melindungi kepercayaan di tengah lanskap AI yang terus berkembang.”
Menurut RSL Media, alat pertama ini akan mencakup nama, gambar, kemiripan, suara, gerakan, serta atribut pribadi atau khas lainnya bagi mereka yang mendaftar melalui platformnya. Organisasi ini berencana menindaklanjuti Human Consent Registry dengan registri sederhana serupa untuk “Pekerjaan,” “Karakter,” dan “Merek.”
Perlu dicatat bahwa tampaknya belum ada mekanisme penegakan hukum yang memaksa perusahaan AI untuk benar-benar mematuhi hal ini saat ini, dan Anda menyerahkan banyak data pribadi kepada pihak ketiga, jadi tetap berhati-hatilah. Meski begitu, sistem ini dibangun di atas standar Really Simple Licensing (RSL), sebuah protokol terbuka populer yang dirancang untuk menetapkan hak penggunaan AI dan persyaratan lisensi konten. RSL telah menjadi opsi favorit bagi penerbit digital, dan dengan upaya baru ini, RSL Media bermaksud memperluas pendekatan tersebut ke ranah kemiripan manusia.