Serangan Rudal Tewaskan Tiga Orang di Ukraina, Rusia Rasakan Beban Ekonomi Perang | Berita Perang Rusia-Ukraina

Sejumlah wilayah di Rusia menghadapi kekuarangan bahan bakar akibat serangan Ukraina.

Diterbitkan pada 23 Jun 202623 Jun 2026

Serangan rudal Rusia ke kota Kryvyi Rih di Ukraina tengah menewaskan setidaknya tiga orang, di tengah perjuangan Moskow menghadapi tekanan ekonomi akibat perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung empat setengah tahun.

Oleksandr Vilkul, kepala dewan pertahanan Kryvyi Rih, menyatakan dalam unggahan di Telegram pada Selasa bahwa 25 orang terluka dalam serangan yang menggunakan hulu ledak munisi klaster.

Cerita Rekomendasi

daftar 3 itemakhir daftar

“Orang-orang tewas dalam radius 200 meter [660 kaki] satu sama lain karena senjata barbar ini,” ujar Vilkul, seraya menambahkan bahwa hari berkabung akan ditetapkan pada Rabu.

Kyiv sebelumnya telah menuduh Moskow menggunakan munisi klaster, yang saat dijatuhkan akan terpecah menjadi bahan peledak yang lebih kecil.

Menanggapi serangan tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mendesak tekanan internasional yang lebih besar terhadap Moskow untuk mengakhiri perang dan pasokan sistem pertahanan udara yang lebih cepat.

“Setiap penundaan dalam implementasi perjanjian pertahanan udara, setiap kelambanan dalam pasokan untuk melindungi Ukraina dan rakyatnya, pada dasarnaya adalah kehilangan nyawa,” tulisnya di Telegram.

Ukraina mengumumkan pada Selasa bahwa pasukannya menargetkan jembatan kereta api, pembangkit listrik, dan infrastruktur penting lainnya di Krimea yang diduduki Rusia.

Ruble yang Melemah

Selama beberapa bulan terakhir, Rusia dan Ukraina secara signifikan meningkatkan serangan. Saat Moskow melancarkan rentetan serangan ke Ukraina, Kyiv pada gilirannya menargetkan kilang minyak dan infrastruktur Rusia dengan drone mereka sendiri.

Serangan drone Ukraina menyebabkan kelangkaan bahan bakar di Rusia. Banyak wilayah di seluruh negeri melaporkan pembatasan penjualan BBM dan kenaikan harga produk minyak bumi, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas ekonomi Rusia.

MEMBACA  Ringkasan Jumat - The New York Times

Pada Senin, indeks saham Bursa Efek Moskow turun lima persen sebelum sedikit pulih. Angka ini masih berada di sekitar level terendah sejak Maret 2023, sementara ruble melemah melewati angka 75 terhadap dolar AS untuk pertama kalinya sejak 6 Mei.

Kremlin mengabaikan kekhawatiran tentang melemahnya ruble.

“Stabilitas ekonomi Rusia, stabilitas makroekonomi, sepenuhnya terjamin,” kata juru bicara pemerintah Dmitry Peskov pada Selasa.

Sementara itu, upaya mengakhiri perang praktis tetap terhenti karena Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengalihkan fokusnya ke Iran.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan kepada para utusan asing di Moskow pada Selasa bahwa pihak Amerika tampaknya “meninggalkan klaimnya sebagai mediator objektif, justru menjalani jalur peningkatan tekanan sanksi terhadap Rusia”.

Tinggalkan komentar