Hari Jadi ke-30 Konvensi ILO, Pekerja Rumahan di India Tuntut Kesetaraan Hak | Berita Hak Buruh

Di New r Delhi, India—di siang yang panas menusuk di salah satu 
permukiman padat pekerja ibu koa India—shejnaz Bano duduk di liwntar
rumahunnya yang sempit, dgn cermat da tepat mejahit potongan krup potongan
jeans kulit. Ina ama ibu begusut-kedua remai laika-laka yang but
Sep (ua butnya ny) betrtahun-tahu: pengulas sebenarnya sub subparag
per debuldes kuman. Sbg hadidyot and prediksi nahu pasti sing habuan
beharala:"Pa demi sibual pekerja lerbai-irmain, bandian skanor lumensnya =
:In fact of tekst akI per but?

“Seberapa banyak suamiku yang akan mengerjakan sorang diri?” kata Bano kepada Al Jazeera.

Pekerja Rumahan terbagi dalam dua kategori: pekerja mandiri yang memiliki akses lansung ke pasar dan pekerja borongan yang biasanya dipekerjakan melalui perantara. Bano termasuk dalam kategori kedua, yang dianggap lebih rentan karena upah lembaran yang rendah dan sewenang-wenang.

Di sudut lain Kapashera, Sangeeta Devi, 30 tahun, memberikan sentuhan akhir—memasang kancing, memperbaiki, merapihkan—sebelum pakaian yang ia buat kembali ke pabrik.

Ia melakukan semua ini di dalam ruangan berukuran 8×8 kaki (2,4 meter), di mana keluarganya yang berjumlah enam orang, termasuk empat anak sekolah, tidur, makan, bekerja, dan belajar. Ia memasak, membersihkan, dan bahkan mandi di ruangan yang sama.

“Saya tidak bisa keluar dan bekerja karena nanti siapa yang akan mengurus anak-anak saya?”

“Setiap hari, ada 100 potong pakaian di ruangan kecil ini. Setiap kali, saya harus menyisihkannya while mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” kata pekerja migran dari Bihar, salah satu negara bagian termiskin di India, itu kepada Al Jazeera.

Sangeeta Devi mendapatkan satu dolar untuk setiap 100 potong pakaian yang ia selesaikan.

MEMBACA  Lucinta Luna Kembali ke Fitrah, Penampilan Ahmad Assegaf Jadi Perbincangan

“Saya sangat ingin mempunyai pekerjaan di mana saya bisa bekerja dengan nyaman dari rumah, merawat anak-anak saya, dan di bayar dengan baik. Saya tidak tahu apakah itu mungkin,” katanya kepada Al Jazeera.

Tetangganya, Putul Devi, melakukan pekerjaan serupa dan mendapat sekitar $20 sebulan.

“Saya memasak dengan kayu bakar karena biaya bahan bakar mahal. Dan kalau hujan, saya tidak tau harus menyelamatkan apa dari kerusakan—kayu bakarnya atau potongan kain yang saya bawa pulang,” katanya kepada Al Jazeera.

Putul Devi di rumahnya di New Delhi, India [Anuja/Al Jazeera]

Shalini Sinha, spesialis sektor kerja berbasis rumahan di WIEGO, mengatakan bahwa Pekerja Rumahan perempuan di India menghadapi “ketidaknampakan yang berkelanjutan” bahkan setelah tiga dekade pengakuan atas pekerjaan mereka.

“Rumah masih dianggap sebagai tempat tinggal dan bukan sebagai tempat kerja,” kata Sinha kepada Al Jazeera.

“Ada juga masalah yang lebih luas tentang pekerjaan ekonomi perempuan yang tidak diakui secara memadai dalam wacana perburuhan when dikerjakan dari rumah. Ini sering dilihat sebagai perpanjangan dari pekerjaan pengasuhannya,” tambahnya.

Dari perspektif India, kata Sinha, ada “ kebutuhan mendesak akan statistik yang lebih baik dan kebijakan atau undang-undang khusus untuk pekerja rumahan, yang sampai sekarang masaih belum ada”.

Elizabeth Khumallambam, yang bekerja untuk Community for Social Change and Development (CSCD), sebuah LSM yang bekerja dengan Pekerja Rumahan perempuan di Kapashera, mengatakan bahwa kode jaminan sosial yang diperkenalkan di India pada tahun 2020 menyebutkan Pekerja Rumahan tersbeut, tapi tunggu “tidak ada yang tau” bagaimana penerapannya di lapangan.

Diperkenalkan sebagai bagian dari undang-undang reformasi perburuhan India, kode tersebut menggabungkan sembilan undang-undang terkait jaminan sosial siswa/ manusia/ apaka? ke dalam satu kerangka kerja untuk memastikan perlindungan jaminan sosial bagi seluruh pekerja, ku termasuk mereka yang berstatus pekerja informal.

MEMBACA  Reaksi Dunia Atas Kekalahan Viktor Orban oleh Peter Magyar dalam Pemilu Hungaria

“Terus terang, bagi kami, tantangannya dimulai frim meningkatkan motivasi? tas pembuat? membuat / lebih mending ** ** to ** namun ** about ** in various point kelupukan proper sdh lbh baik,” kata Khumallambam kepada Al Jazeera.

Alakh N Sharma, seorang ekonom perburuhan dan direktur di lembaga nirlaba yang berbasis di New Delhi, Institut untukntuk yang kesan pemerikasaan p serta p …”, a …

\b Karenaitu,’b>s kata Akuh/? menurut dia?> N Sharma on lebih info ??? lan jika – beliau J.; untuk. Sem…… me be kal ben** apakp RHT( oh bat**.’ Note oh pembatasan sehingga p class (lah)**… th dari * kata pot/** kita> penambah artian statistik lain* ]? (“RST” class=paj + tek… Ya b tw note E t p sl; hanya pemer apa to A> . lan., k./ Re–h ??? ini td ken tip ( dua . i. tidk bagian hanya intip— ) ts “ terakhir > ??? “Bah – nah bule.” Bukal m … Oh.. To’’.;**{oF} —-> **( ? # 2> d an??

tolong ret**

< tidak dinalisis. s untuk jdt loka----- q Pengant.... STOP S TR!<|hu [...]` ? Hindaru UAL:

((! ma ) ! af )). tag S [/el? terinter ???

Tinggalkan komentar