Harga minyak naik lebih dari $4 per barel pada Senin 8 Juni seiring serangan baru Israel ke Iran dan Lebanon, bikin investor khawatir soal pasokan dari Timur Tengah.
Jam 06:09 GMT, minyak mentah Brent diperdagangkan di $97.15/barel, naik $4.42 atau 4.47% dari penutupan sebelumnya. Sementara minyak AS naik $4.07 atau 4.50% ke $94.61/barel, lapor Reuters.
Kenaikan ini terjadi setelah Israel ngonfirmasi pada Senin bahwa mereka menyerang pabrik petrokimia di barat daya Iran dan lokasi militer lain. Ini serangan pertama ke fasilitas energi Iran sejak gencatan senjata 8 April.
Ketegangan di wilayah itu makin panas, harapan untuk resolusi konflik mulai pudar, dan pengiriman minyak normal lewat Selat Hormuz belum bisa jalan lagi.
Selat ini jalur transit penting untuk sekitar 20% minyak dunia dan gas alam cair (LNG).
Harga minyak yang turun pada Jumat karena ekspektasi ketegangan reda, sekarang melonjak hampir 60% sejak akhir Februari. Tapi masih di bawah puncak Maret saat Brent mendekati $120/barel.
Iran juga balas menembak rudal ke target Israel pada Minggu sebagai respons atas operasi Israel di Lebanon.
Dalam wawancara dengan koran Rusia Izvestia, Duta Besar Iran untuk Moskow, Kazem Jalali, bilang: “Tentu saja selat ini bakal buka, tapi ada kondisi baru yang akan ditentukan otoritas Iran dan Oman.”
Ekspor lewat Selat Hormuz udah dibatasi ketat sejak Februari setelah serangan ke Iran dan blokade pelabuhan Iran oleh AS.
Menanggapi gangguan ini, Opec+ memutuskan naikkan target produksi minyak untuk bulan keempat berturut-turut. Grup ini akan nambah kuota kolektif anggota hampir 600.000 barel per hari antara April dan Juni, lapor Reuters.
Data OPEC menunjukkan produksi aktual grup turun drastis, rata-rata 33.19 juta barel per hari di April, turun dari 42.77 juta barel per hari di Februari. Ini sebagian besar karena penurunan ekspor negara Teluk.
Menurut OPEC, tujuh anggota OPEC+ setuju pada Minggu untuk nambah target produksi 188.000 barel per hari mulai Juli.
Sementara CEO Rosneft, Igor Sechin, klaim perusahaan energi AS diuntungkan dari situasi di Selat Hormuz. Tapi dia peringatkan ketidakstabilan terus-menerus bisa lemahkan permintaan minyak jangka panjang, lapor Reuters.
Rusia laporkan kenaikan pendapatan pajak minyak dan gas 32,4% year-on-year di Mei, terbantu harga global tinggi sejak konflik memanas.
AS memperpanjang keringanan sanksi supaya negara rentan bisa beli minyak laut Rusia.