Terbit 6 Jun 20266 Jun 2026
Di Jantar Mantar, New Delhi— pusat protes paling ikonik di India—ratusan pemuda, kebanyakan berusia muda, mengenakan topeng kecoa dan membawa buku panduan ujian yang lusuh, berupaya mengubah lelucon daring menjadi kekuatan nyata di jalanan.
Mereka menamakan diri Partai Kecoa Janta (CJP)—sebuah "partai rakyat" satir yang baru lahir tiga pekan lalu, setelah ketua mahkamah agung India dikabarkan menyamakan para pengkritik pemerintah dan pemuda pengangguran dengan "kecoa" dan "parasit."
Awalnya sekadar akun parodi dan pabrik meme, akun ini kini berubah menjadi saluran pelampiasan kemarahan atas ujian, lapangan kerja, serta pudarnya janji ekonomi. Sabtu lalu, ketidakpuasan digital itu turun dari layar: dengan mengibarkan bendera nasional dan menggenggam buku sekolah, para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan menyusul rentetan kebocoran soal ujian, gangguan teknis, dan pembatalan tes.
Bagi banyak orang, kekacauan pada ujian masuk kedokteran NEET—serta laporan bunuh diri mahasiswa—melambangkan sistem yang, menurut pemuda India, sudah kehilangan kredibiltas.
Pendiri CJP, Abhijeet Dipke, 30 tahun, seorang ahli strategi politik sekaligus lulusan Boston University, terbang dari Amerika Serikat untuk memimpin aksi. Ia mengatakan kepada para pendukung bahwa "kecoa tidak pernah takut."
Kehadiran polisi berseragam anti-huru-hara dan barikade besi menunjukkan risiko berpendapat di era ketika unjuk rasa besar sering berujung pada tindakan represif dan tuntutan pidana.
Dengan lebih dari 20 juta pengikut di Instagram, CJP kini melampaui banyak partai arus utama dalam hal pengikut daring. Uji coba pertama protes jalanannya kini menentukan apakah meme yang spontan dan satire dapat menjelma menjadi gerakan yang berkelanjutan—dan apakah pemuda Indonesia yang cemas serta sangat terhubung secara digital dapat merumusakan bahasa politik baru bagi rasa frustrasi mereka.