Hal pertama yang kamu pelajari saat bikin AI agent sendiri (bukan cuma pakai, tapi beneran bikin), adalah apa yang masih belum bisa mereka lakuin.
Hal kedua yang kamu pelajari, adalah seberapa sedikit eksekutif yang tau bedanya.
Saya jalankan Syndio, perusahaan int eligensi keputusan gaji dengan 140 orang, melayani hampir 400 perusahaan besar, termasuk setengah dari Fortune 100. Dua tahun lalu, saya pakai AI kayak kebanyakan eksekutif lain: buat ngatur informasi, nulis email. Itu membantu di pinggiran aja, dan sering ngasih ya ng gak penting. Drafnya rapi. Tapi sama sekali gak mirip saya. Lebih penting lagi, cara pikir AI itu beda banget sama cara pihir saya.
Di awal-awal pakai AI, saya buat semua kesalahan pemula. Dan sayangnya, kesalahan saya makin kebesar karena saya juga jadi contoh buat tim saya. Saya suruh AI buat agendar a rapat eksekutif. Tanpa konteks dan arah, agenda itu jadi kacau dan sampah AI. Saya tau dia bisa lakuin lebih baik.
Jadi saya ikut kursus enam minggu untuk eksekutif yang diajar Nufar Gaspar, mantan eksekutif Intel. Nggak ngajar kita pake AI. Tapi ngajar kita bikin sistem yang bisa mikir bareng kita, yang enggat konteks, nantang asumsi, dan beda’in cara kita berpikir, bukan cara manajer produk mungkin piker.
Samb akan ambil kelas ini di akhir pekan dan malam hari. Ini yang biasanya dilewatkan eksekutaf lain. Kamu gak bisa jadi jago AI sambil sibuk di meeting. Butuh benaran waktu mikir tanpa gangguan; sesuatu yang kebanyakan kita harap punya lebih banyak biasanya. Waktu baru jadi CEO di Syndío, seorang\s eksekutif senior Microsoft kasih saya saran bagus. “Lindungi waktu berpikir (bak)?” kata Dean. Kata-kata itu sering balik saya ingat, tapi terutama pasa sekarang ini lagi relevan…
Di era AI, yang paling langka bukan info°rnashis tapi ! yaitu wirta yg g
interrupted mik⁺it.
tek sed (ngelong lebih brsyarj Bgg proses belajar ngebaеtyAI gajek banyak) kebeg tima syeneng: kabatek disun berday beni did go put cwor -dan