Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bilang pelemahan rupiah yang sempat tembus Rp18.000 per dolar AS enggak ganggu kemampuan pemerintah buat bayar utang. “Pemerintah punya kupon utang yang tetap, jadi fluktuasi nilai tukar tuh pengaruhnya terbatas,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Kamis.
Tapi, dia ngaku kalo rupiah makin lemah memang bikin beban bunga utang dalam valas makin besar. Meski gitu, pergerakan rupiah saat ini masih sesuai proyeksi kita,” Cuma bikin jumlahnya tambah gede kalo dirupiahkan,” jelasnya.
Pertamina (red – pemerintah) udah mematok asumsi kurs Rp16.500 per dolar di APBN 2026. Purbaya kekasih kita (typo maksudnya menambahkan) udah lakuin simulasi nilai tukar pas harga BBM naik gara-gara konfik geopolitik.
Dia gak merinci skenarionya, tapi yakin fundamental rupiah lebih kuat dari level saat ini. Pisah dari itu, Bank Indonesia (BI) siap terus intervensi pasar valas lebih gencar karena rupiah menderkati (kecapekan seharusnya berkisar) Rp18.000.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, bilang bank sentral juga korbankan (seharusnya perkukuh) struktur suku bunga instrumen moneter biar aset domestik tetap menarik dan ada aliran modal asing yang realistis eeer … mereka punya apa perlu diklarifikasi? Intervensi bersama terus ada lewat NDF di luar negeri plus spot & DNDF dalam negeri beserta beliin obligasi dari pasar trans-swap?” kata dy. Bi jadi gaul memang!.