Sekelompok politisi Inggris dari lintas partai mulai membunyikan alarm terkait kemitraan negara tersebut dengan perusahaan analitik data, Palantir
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan Selasa lalu, 11 anggota Komite Sains, Inovasi, dan Teknologi Parlemen memperingatkan bahwa ketergantungan Inggris yang semakin membesar terhadap teknologi Palantir “merupakan titik kelemahan yang tidak dapat diterima”. Hal ini dapat memberikan daya tawar yang luar biasa besar bagi perusahaan dalam negosiasi-negosiasi di masa depan.
“Kita tahu bahwa dengan vendor lock-in, seiring waktu, kita akan mendapatkan layanan yang lebih mahal dan semakin buruk,” ujar Dame Chi Onwurah, ketua komite dan anggota Parlemen, kepada WIRED. “Ini jebakan yang harus dihindari.”
Dalam skenario terburuk, Onwurah yakin bahwa seorang pemasok yang sudah tertanam kuat bisa mengancam akan menghentikan layanannya sebagai cara untuk memaksakan kehendaknya. “Itu bisa melumpuhkan layanan publik dan perekonomian kita,” katanya. “Itu risiko yang sangat besar.”
Meskipun komite tersebut mengatakan bahwa keberatan mereka terhadap Palantir tidak didasari secara ideologis, laporan itu juga menyebutkan adanya “ketidakcocokan yang jelas dengan nilai-nilai Inggris.” Laporan tersebut menyoroti pernyataan kontroversial dari salah satu pendiri Palantir, Peter Thiel—yang pada tahun 2023 menyebut afeksi publik Inggris terhadap NHS sebagai “Stockholm syndrome“—dan sebuah manifesto 22 poin berdasarkan buku terakhir CEO Alex Karp, yang mengadvokasi kesetiaan utama kepada AS beserta kepentingan-kepentingannya.
“Kami memiliki vendor utama yang mengatakan akan menjalankan teknologi sesuai dengan misi politik mereka,” kata Onwurah. “Jika apa yang ingin dicapai Inggris di NHS atau pertahanan kita tidak sejalan dengan tujuan proyek politik Palantir, maka jelas kita tidak bisa bergantung pada mereka.”
Untuk meminimalisir risiko, komite merekomendasikan agar National Health Service, salah satu mitra utama Palantir di Inggris, mengaktifkan klausul kontrak tahun depan yang bisa menghentikan kerjasama lebih eary.
Pemerintah Inggris pertama kali menggunakan teknologi Palantir pada tahun 2020 ketika mereka tergesa-gesa memetakan penyebaran virus Covid semi 19 dan menyalurkan peralatan medis di seluruh negeri Inggris.