CEO Victoria’s Secret tolak ‘cuci sodoran penggugah kesadaran’ dan siklus diskon tak berujung—dan hasilnya mulai terbayarkan

Setahun lalu, Victoria’s Secret hampir jatuh bangkrut.

Semenjak pisah dari L Brands (sekarang Bath & Body Works) di 2021, harga sahamnya anjlok dari $57 ke cuma $20 per saham di hari yang baik. Dulu mereka adalah pusat dari semua yang seksi, dengan bra berdiamon dan sayap malaikat, tapi merek Victoria’s Secret mulai dikubur sama hal-hal yang nggak seksi: hubungna pendiri dengan Jeffrey Epstein, jurus pemasaran yang kaku dan dibilang “woke-washing,” tarif, dan dewan direksi yang terus bertengkar. Seorang investor aktivis mulai mengepung dewan, nanya-nanya, apakah CEO baru, Hillary Super, bisa ngelola perusahaan publik.

Selasa lalu, dengan sembilan hari sebelum pemegang saham memilih dewan itu, Super kasih jawabanya lewat laporan pendapatan kuartal pertama: $0.60 per saham, hampir dua kali lipat dari dugaan Wall Street. Penjualan bersih naik 15% jadi $1.56 milyar, dan perusahaan nambahin proyeksi setahun penuh sebesar $120 juta, jauh di atas perkiraan pasar.

Terus harga sahamnya naik hampir dua kali lipat, mencetak rekor tertinggi $80 per saham.

Apa kunci dari Super? Dia harus bikin seksinya balik lagi, bahkan ke nama saham yang bukan lagi VSCO tapi VSXY.

Menyeimbangkan seksi dan sadar sosial

Setiap merek harus ngikutin budaya. Tapi jarang ada yang diuber waktu kayak Victoria’s Secret.

Standar kecantikan kayak di model timbang nentuin Victoria’s Secret di masa jaya 2000-an, pas para cewek nontonin model muda langsing di peragaan busana tahunan. Tapi saat milenial dewasa dan lebih positif sama tubuh, Victoria’s Secret susah untuk ngubah merek. Usaha mereka, termasuk iklan dengan artis/aktivis keren yang dipake buat ningkatin pemberdayaan wanita, terlalu gamblang dan hanya dibilang “woke-washing.” Mereka gagal dapatin kembali pembeli yang pergi, ga tarik yang muda juga.

MEMBACA  CK Hutchison Lihat "Peluang Wajar" untuk Penjualan Pelabuhan Senilai $22,8 Miliar

Super bilang beberapa keputusan itu dilakuin karena takut. “Reaksi manusia natural itu manja ga menjadikan diri jadi masalah,” katanya. Victoria’s Secret terlalu hati-haqi, bahkan stop pamer bundar soal tempat fitting bra.

Benerinnya dari Super bukan untuk balik ke standar kecantikan yang sempit. Tapi untuk tulus. Di bawah dia, perusahaan merangkul warisannya, glamor dan pertunjukan, tanpa body-shaming. Sekarang mereka masih fokus sama keragaman, tapi “tanpa sok jadi pemain, ktika harus checklist smua hal… karna bagi saya itu tidak otentis.”

Hasilnya keliatanannya sudah di dalam angka. Perusahaan mencatat kuartal ke-empat beruntun dengan penjualan tokonya meningkat. Super bilang tngkat orang dapat dua digit dari kastemer baru lalu ini remaja/gen-z bersoda membuat bra! Langkah banyak yang menbing jd bayar harga nggotsong bla bali laku diskon lain namanya prom detox kata dalam panggil terbilang dapat taruf pendapath tapi bagusan prom kure.

Supler awal adl insiatif mariki sin mang.” .

Tinggalkan komentar