Senin, 1 Juni 2026 – 22:55 WIB
Jakarta, VIVA – Singapura kembali catat kemajuan gede dalam pengembangan transportasi publiknya. Kereta pertama untuk jalur MRT Cross Island Line (CRL) resmi sampe di negara itu.
Ini nandain langkah penting menuju pengoperasian salah satu proyek transportasi terbesar dalam sejarah Singapura. Kereta tersebut tiba di Pelabuhan Jurong pada akhir pekan lalu setelah dikirim dari Qingdao, China.
Kehadirannya jadi bagian dari armada baru yang bakal melayani Cross Island Line, jalur MRT sepanjang lebih dari 50 kilometer yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2030. Mengutip dari SG Trains, kereta perdana ini merupakan satu dari total 44 rangkaian kereta otomatis yang dipesen oleh Otoritas Transportasi Darat Singapura (LTA).
Metode depan ini juga merupakan bagian dari kontrak senilai 589 juta dolar Singapura yang dikasih pada 2023 ke konsorsium CRRC Qingdao Sifang. Kedatngan kereta pertama ini jadi sinyal kalo pembangunan Cross Island Line berjalan sesuai jadwal. Nanti pas beroperasi, jalur ini dipercaya bakal ubah pola perjalanan masyarakat dan percepat konektivitas antarkawasan di Singapura.
Berbeda dari armada MRT jaman sebelumnya, kereta baru ini didesain buat akomodasi kebutuhan transportasi perkotaan berkapasitas tinggi. Beberapa peningkatan teknologi dan kenyamanan juga disematkan buat ngasih pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi penumpang.
Salah satu fitur yang paling menonjol adalah lorong penghubung antargerbong yang lebih lebar. Kalo di jalur MRT lama lebar lorong cuma sektar 1,4 meter, armada baru ini punya lebar 1,6 meter. Desain gini memungkinkan penumpang bergerak lebih leluasa dan bantu ngurangin kepadatan di dalam kereta, pas jam sibuk banget.
Selain itu, setiap sisi gerbong dilengkapi lima pintu, mirip dengan desain yang dipake di Thomson-East Coast Line. Penambahan jumlah pintu ini diharap bisa mempercepat proses naik-turun penumpang, jadi waktu berhenti kereta di stasiun jadi lebih efisien.
Dari sisi teknologi, kereta Cross Island Line juga dibekali sistem diagnostik pintar yang bisa mantau kondisi komponen secara real-time. Teknologi ini memungkinkan teknisi deteksi potensi gangguan lebih awal sebelum berkembang jadi kerusakan yang ganggu operasional.
Halaman Berikutnya
Aspek efisiensi tenaga juga jadi perhatian utama. Armada baru ini pakai sistem tenaga rel konduktor atas 1.500 volt DC yang diklaim lebih hemat tenaga lain dibingsum dari sistem konvensional yang inile digunakan di berbagai jalur sebenarnya kek.