Toko Buku Ann Patchett yang Dibilang Bakal Gagal Kini Jadi Acuan Sukses

Kalo dia sedang ga nulis novel, Ann Patchett sering mikir apa yang bisa dia lakuin buat orang lain: misalnya nulis blurb buat Douglas Stuart, atau bikin video ucapan ultah buat penulis-toko buku Emma Straub, atau memulai wawancara dengan promosi buat penulis lain yang dia kagumi.

“Buku baru Liz Strout itu yang terbaik,” katanya soal buku Elizabeth Strout yang judulnya “The Things We Never Say.” “Kamu tau, setiap kali dia nerbitin buku, kita selalu mikir, ‘Oh, ya, dia pasti ga bisa ngelakuin itu lagi.’ Tapi lalu dia keluar dengan buku lain dan bahkan lebih bagus.”

Di umur 62 tahun, Patchett adalah penulis yang langka dan beruntung dimana kata-katanya terkenal diantara teman-teman dan orang asing. Dia punya salah satu toko buku independen terkenal di Amerika, Parnassus Books, dengan pelanggan dari pencinta buku Nashville sampai Tom Hanks. Dia juga seorang novelis terkenal dan sering menang penghargaan yang bukunya selalu ditunggu-tunggu, dan buku-buku lamanya, termasuk “Bel Canto” yang terkenal itu, tetep laku. Di tahun 2021, dia dapet National Humanities Medal karena “menuangkan keindahan, kesakitan, dan kompleksitas sifat manusia ke dalam kata-kata.”

Buku-bukunya udah diterjemahin ke lebih dari 20 bahasa, tapi rumahnya di Nashville, dimana dia habiskan sebagian masa kecilnya dan sekarang tinggal sama suaminya, dokter Karl VanDevender. Patchett bicara di Parnassus dengan Associated Press di pagi hari yang cerah, sebentar sebelum toko buka. Dia juga ketemu dengan staff yang ngumpul di tengah toko seluas 4800 kaki persegi buat bahas acara mendatang, dan kadang diganggu sama “anjing toko” milik karyawan yang lari-larian kayak pelanggan yang lagi cari diskon.

MEMBACA  Perusahaan rintisan dan akademisi berselisih pendapat tentang apakah kecerdasan buatan supermanusia benar-benar 'mulai terlihat'

Buku barunya judulnya ‘Whistler’

Patchett dateng awal buat ngomongin “Whistler”, yang rilis hari Selasa. Kayak “Bel Canto”, “State of Wonder” dan novel Patchett lainnya, cerita ini tentang pertemuan yang tak terduga dan ikatan yang makin erat. Di cerita ini, Daphne Fuller yang umur 53 tahun dan suaminya ketemu seorang pria tua, Eddie Triplett, di Metropolitan Museum of Art dan sadar dia dulu sebentar jadi ayah tirinya waktu kecil. Daphne dan Eddie jadi teman deket sambil ngiget masa-masa bersama mereka, termasuk kecelakaan mobil yang serius lalu pernikahan Eddie dengan ibunya berakhir.

Patchett ga nulis dengan pesan tertentu, tapi “Whistler” bisa dibaca sebagai ucapan tentang kebaikan dan kedermawanan. Judulnya merujuk ke dongeng tentang kuda yang lari, tapi muncul pas lagi krisis. Setelah kecelakaan, waktu Daphne bingung apa aman buat pergi cari tolong, Eddie jamin, “Aku sumpah, di luar sana kebanyakhan orang baik, cuma ada beberapa orang jahat di pinggiran.”

“Orang-orang yang aku temui setiap hari adalah orang baik,” kata Patchett. “Jarang banget aku ketemu orang yang ga ramah. Sekarang, kalo kamu nonton berita dan baca berita, seakan semua orang jahat dan pembunuh. Tapi itu bedanya antara sumber utama dan sumber kedua. Jadi kalo aku cuma pake sumber utama, yang aku liat adalah kebaikan. Aku paham banget kalo ada kengerian dan kekejaman yang luar biasa di dunia, tapi aku juga rasa kengerian dan kekejaman itu udah diwakilin dengan baik (di seni). Dan apa yang aku alami di kehidupan sehari-hari ga begitu diwakilin di seni.”

“Aku ga sengaja nulis buku tentang orang baik,” tambahnya, “tapi aku suka orang.”

MEMBACA  Display Veteran Menghormati Mereka yang Telah Berjasa

Dihormati PEN America

Perasaan Patchett sebagai warga negara baru-baru ini diakui sama PEN America, yang di acara tahunan mereka bulan Mei di Manhattan kasih dia Literary Service Award. Waktu perkenalin dia ke ratusan orang di American Museum of Natural History, penulis Patrick Ryan nyebut banyak kontribusi dia, baik bekerja “buat bantu buku nyampe ke tangan anak-anak di komunitas yang kurang terlayani,” dukung penulis baru, atau inspirasikan pembaca “yang merasa diri mereka di novelnya.”

Patchett punya penghargaan yang dijalanin soal hubungan, dan gimana itu bisa rusak gara-gara pertikaian atau berhenti karena kematian.

Asli dari Los Angeles, dia masih kecil pas orang tuanya bercerai dan dia pindah ke timur sama ibunya, kejadian yang dipake buat novelnya “Commonwealth.” Dia juga nulis memorial buat orang-orang terkasih yang meninggal. Di memoar “Truth & Beauty,” dia inget temen deketnya Lucy Grealy, seorang penyair dan penulis memoar yang derita kanker langka dan jalani beberapa operasi sebelum meninggal di 39. Di esai judul dari kumpulan dia tahun 2004 “These Precious Days,” Patchett hormati almarhum Sooki Raphael, asisten Hanks yang deket sama dia waktu Raphael lawan kanker terminal.

“Whistler” didedikasikan buat temennya Jim Fox, mantan kepala penasihat hukum di HarperCollins yang meninggal di 2024 dan jadi inspirasi buat Eddie (dan nama buat karakter di “State of Wonder”).

“Dia cerdas banget, dan pembaca yang hebat,” katanya. “Jim bukan Eddie dan aku bukan Daphne, dan tentu aja situasinya ga sama, tapi cinta besar yang Eddie dan Daphne berbagi adalah cinta besar yang Jim dan aku berbagi.”

Seorang penjual buku yang menginspirasi

MEMBACA  PPL Menerima Peningkatan Rekomendasi dari Barclays Seiring Membaiknya Visibilitas Pendapatan

Patchett, lulusan Sarah Lawrence College dan Iowa Writers’ Workshop di University of Iowa, inget suka cerita
meski sebelum dia bisa baca, kekurangan yang dia bilang malah ningkatin apresiasi dia terhadap kata-kata cetakan. Dibesarin sebelum popularitas buku “dewasa muda,” dia mulai baca favorit anak-anak kayak “Charlotte’s Web” dan seri “The Little House on the Prairie,” lalu langsung naik ke sastra raksastra yang jadi pengaruh awalnya: Saul Bellow, Philip Roth dan John Updike.

Di awal umur 20-an, Patchett udah cukup mahir sampe cerpennya dimuat di The Paris Review. Novel debutnya, “The Patron Saint of Liars,” keluar sebelum dia umur 30. Dia udah nerbitin sembilan karya fiksi lainnya, termasuk “Whistler,” plus empat buku nonfiksi dan tiga buku bergambar, diilustrasiin Robin Bridgest Gal…

Beg

Tinggalkan komentar