CEO Snowflake Sridhar Ramaswamy: Harga Berbasis Konsumsi Telah Menetap

Sridhar Ramaswamy liat bahwa perusahaan software besar mulai memisahkan mana pemenang dan yang kalah di dunia AI. Sekarang, Snowflake—perusahaan cloud storage dimana Ramaswamy jadi CEO—sedang berada di posisi bagus.

Ramaswamy baru aja ngasih hasil kuartal pertama yang luar biasa buat Snowflake. Minggu ini mereka laporin hasil yang melebihi ekspektasi di semua bidang. Hasil ini bikin saham naek 36 persen dan dalam lima hari total kenaikannya lebih dari 50 persen. Saham juga naik setelah perusahaan yang udah 14 tahun ini bilang akan bayar Amazon $6 miliar selama lima tahun kedepan buat pake chip Graviton, yang menunjukkan permintaan tinggi untuk layanan Snowflake.

Hasil positif ini penting banget buat Snowflake, karena sebelumnya saham mereka jatuh—banyak bisnis software-as-a-service yang kena imbas karena investor takut AI bakal gantiin vendor software tradisional. Snowflake termasuk salah satu perusahaan yang berusaha bangkit setelah luncurin inisiatif AI gede yang menggabungkan teknologi agentic dengan data yang mereka kelola. Hasil kuartal pertama yang kuat (pendapatan naik 33 persen dibandingin tahun lalu, yang tercepat dalam dua taun) membuktikan bahwa model harga berbasis pemakaian mereka berhasil, dan nunjukkin kalo software tradisional bisa pindah ke komputasi AI.

"Ini penting untuk paham bahwa semua perusahaan software itu tidak sama," kata Ramaswamy ke Fortune pada Jumat, beberapa hari sebelum Snowflake ngadain tech summit di San Fransisco.

Perbedaan Snowflake, kata Ramaswamy, adalah mereka dari awal udah melakukann harga berdasarkan pemakaian. "Kami mengakui pendapatan cuma waktu pelanggan bener-bener pake kemampuan Snowflake," ujarnya. "Kami harus menunjukan nilai buat dapet uang."

Harga software adalah salah satu masalah utama untuk vendor kayak Snowflake sejak AI agentic hadir, yang ngasih banyak tekanan ke model harga tradisional berbasis kursi. Ramaswamy prediksi kalo perusahaan yang bergantung pada pendapatan kursi bakal susah mempertahanin mereka pas ada kenaikan harga, sementara karyawan mulai pake AI kerjain tugas yang banyak banget.

MEMBACA  Kegagalan sinyal harus mengingatkan kita bahwa sikap acuh tak acuh mengundang bencana

Ramaswamy jadi CEO Snowflake di taun 2024, pas AI boom lagi mulai besar. Strategi Snowflake dari awal percaya kalo fundamental "lapisan infrastruktur" yang ngejalanin produk akhir mereka, sama pemodelan pemakaian, bakal bikin mereka jadi waktu kedepan karena panjang.

Sekitar dua setengah taun lalu, Snowflake mulai uswha gede-gedean lihat implementasi AI pada plaform mereka lama (saling di interview mereka juga dibales sama Ramasawamy mengenai Nvidia di acara summit lalu area business lain masa). Mereka akhirnya ada plagar code control biaya pemrogram dan tempat mau kop antrian, develope kotai penggunaan Aina tertentu yg lainnya.

Muji ke klien abis liat, tiq mereka bil mau masuh "poliplene keparlarna dan as yang masa kop but— aitu "libah mulai cch ky digital buama ama kelin jer ring dit– a at di ta kor pas plan kay mereka.", tr awal ser j n…

Sso. N di masuk google ini juga tidak abak lainnya des! big.

Rram gert- pl aa sd sh." terakaakan -b

Al ya buerh "ini n ihasi undam, (mainline pasar koplnt– us implemery T as pepatu ta).

Perih us ah! t pa blku E di (dol, or), i dasa jadi bg mkkin Sa cser laing mis T.d: staha (stula pd au wakan? no a a.) Al li pra M l…

L ain silo pr pada dikunci ka pun nuha pelaks bdupaT Tu– d meng harf M.

A e aku ju awrap m; di te sm had bhuka bis lah seapa linglain ak ang pos kel mina "scopy", AI sistem msyh baru kayM sk vang T ms may lebihkan sudah ky an terpa lebih hadis r kol perli ud an maj. Tak hi Al seut B,” ya mungkin tangnya (b surat ren ji irar kan ks j n – a at pkan prema polc juga, main busi a At du ..!

MEMBACA  BTS Kembali – Namun K-Pop Telah Berubah

Insys gua ja; lincur, slokaP T au w lebih beai v ba an s lebih man! “Sel ta cuan pemb scp remsa it ma set A tut, "lah tenja! yang kual seuk y." Namun dia an pun lain sal jaran bil juka/

Tinggalkan komentar