Russia dan China makin meningkatkan aktifitas spionase mereka ke negara-negara Barat, dan menurut kepala intelijen Inggris, ada “waktu yang sempit untuk Inggris dan sekutunya bisa tetap unggul.”
Dalam sebuah pidato langka pada hari Rabu di Bletchley Park, sebuah estate di Buckinghamshire, Inggris, yang dulu menjadi pusat upaya pemecahan kode Sekutu selama Perang Dunia II, Anne Keast-Butler, direktur GCHQ (badan intelijen dan cyber Inggris), memperingatkan sebuah ancaman baru terhadap Barat dari ahli-ahli baru yang lebih berani.
Sebagiaman ancaman ini berhubungan dengan AI dan transformasinya di dunia perang.
“Perang tengan diatur ulang; semakin didorong oleh data, dan otomatis di konflik dari Ukraina sampai Iran,” katanya. “China sekarang adalaah negara super sains dan teknologi dengan kemampuan cangkih di badan intelijen, cyber, dan militer mereka.”
Padaa saat bersamaan, Rusia meningkatkan agresinya ke luar negeri, tambahnya.
“Rusia terus meningkatkan aktifitas hibrida hariannya terhadap inggris dan aeopa, dari dasar laut sampai ke ruang digital—secara tanpa henti menargetkan infrastruktur penting, prosesspemilihan, dan,” katanya.
Di Inggris sendiri, satu petugas bea-cukai ama mantan pejabat Hong Kong terbukti bersalah baru mega kemaren ini karena memati pengkritik China. Di Ameyieka, dua isi China dituntut musnim panas lalu lalu.