Energi Panas Bumi: Tantangan, Mitos, dan Ekonomi

Loading…

Dari total potensi panas bumi Indonesia yang mencapai 24.000 megawatt (MW), baru sekitar 2.740 MW atau 12% yang udah dimanfaatin jadi energi listrik.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) merangkap COO Sarulla Operation Limited, Riza Pasikki, bilang kalau potensi besar ini belum maksimal. “Masih ada 88 persen yang belum kepakai, oportunitynya masih gede banget,” katanya.

Dia jelasin, panas bumi itu energi yang benar-benar terbarukan. Soalnya, sistemnya sirkular: fluida dari dalam bumi dipake buat listrik lalu diinjeksi lagi ke bawah, dipanasin ulang sama magma, dan muter terus gak berhenti.

Emisi karbon yang dihasilin juga kecil banget—cuma sekitar 0,1% dibanding pembangkit batu bara dengan kapasitas yang sama. Panas bumi di Indonesia udah dipake pertama kali di Kamojang, Garut tahun 1983, jadi umurnya udah lebih 40 tahun. Potensi terbesarnya ada di sepanjang Bukit Barisan, Sumatera.

### Target Ambisius 2025–2034

Pemerintah nargetin tambah kapasitas panas bumi 5.200 MW dalam RUPTL 2025–2034. Itu hampir dua kali lipat dari total kapasitas yang udah dibangun sejak Indonesia merdeka sampai sekarang.

“Antara 2025–2034, targetnya penambahan 5.200 MW. Pemerintah punya ambisi besar,” kata Riza. Target ini juga cocok sama komitmen Indonesia di Paris Agreement buat capai net zero emission di 2060.

Tapi dia ngingetin, akselarasi pengembangan masih hadang banyak kendala, terutama soal komersialisasi. Industri ini padat modal, padat tegnologi, dan punya risiko eksplorasi tinggi.

MEMBACA  Kebejatan Ustaz di Bekasi: Cabuli Anak Angkat hingga Keponakan, Korbani Remaja hingga Mahasiswi

Tinggalkan komentar