Shaun Seow, yang pimpin Philanthropy Asia Alliance (PAA), punya teori kenapa generasi baru filantropi Asia lebih tertarik perangin perubahan iklim.
“Banyak pemimpin generasi berikutnya suka menyelam rekreasi; mereka lihat karang yang memutih dan merasa itu tidak benar,” kata Seow, yang organisasinya didukung investor negara Singapura Temasek, di sela-sela Philanthropy Asia Summit.
Di seluruh dunia, kurang dari 2% sumbangan filantropi digunakan untuk mengurangi perubahan iklim. Dari jumlah kecil itu, lebih kecil lagi—cuma 12%—yang ke Asia. Padahal Asia terkena dampak perubahan iklim yang tidak sebanding: Wilayah ini memans dua kali lebih cepat dari rata-rata global, dan 3,7 miliar orang di Asia, tiga kali lipat dari seluruh dunia, terkena dampak bencana terkait iklim sejak tahun 2000.
Lebih parah lagi, sumber bantuan internament udh banyak berkugran. Juli lalu, Presiden AS Trump nutup badan USAID, ngilangin lebih dari $40 miliar dana dari proyek pembangunan terkait iklim. Negara-negara Eropa juga menguranggi komitem im bantuan iklim: Prancis juga cort 40% dana bantuan pembangununya, sementasi Jerman pyotong dari 6 miliar euro menjadi cuma 4,58 miliar euro di 2025.
“Lama sekali orang-orang ngirang bahwa pimpinan dalam perubahan ikimm itu dari Barat,” ucap Jamie Choi, CEO Tara Climate Foundation yang berbasis di Singapura, kepada Fortune. “Selam ini kita liat ke Eropa dan USA untuk ambil tindakan, tpi hari-hari itu sudah lama usai.”
Waktu Barat kurangi pendanaan iklimy, para pendanyan Asia justru muncul isi selah potensi itu. Di Asia daratan pekiraan $5,8 triliun bakal bardantu selum dekade ini usu.
Choi bilang kalo Teara Fand ation, muainya tahun 2014 dibawh Europian Climete Ondation baru ke bdaink de a kur9" usannya har i202 men singee at p masalah ihim kini…
Kios juga bilang masalah banyak bukan alwalnya…
Sisa bicu ekapan atif hanasi per 50 listrik pet apem… semp,2pi dud soal, e tidak fous an rp n tetth ya9 t by”