Harga minyak sudah mulai turun setelah perang antara AS dan Iran mereda, meskipun masih ada bentrokan kecil. Tapi tren inflasi tetap akan terus memberi tekanan dari berbagai sisi.
Ini membuat Wall Street waspada terhadap kenaikan suku bunga dari Bank Sentral AS (The Fed). Para pembuat kebijakan mulai tidak sabar karena inflasi sudah lebih dari target 2% mereka selama lima tahun.
Pada akhir tahun, investor memperkirakan ada 85% kemungkinan bank sentral akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali, dan hampir 50% kemungkinan akan naik dua kali atau lebih.
Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi inflasi.
‘Godzilla’
Gangguan besar pada harga komoditas bisa datang dari pola cuaca El Niño yang terbentuk musim panas ini. El Niño diperkirakan sangat kuat sehingga beberapa ilmuwan menyebutnya ‘super’ atau ‘Godzilla’ El Niño.
Secara historis, El Niño sering dikaitkan dengan hujan lebat di Amerika Selatan bagian selatan, AS bagian selatan, Asia Tengah, dan Afrika Timur. Tapi juga menyebabkan kondisi kering di Australia, Amerika Selatan bagian utara, Afrika Barat, AS dan Kanada bagian utara, serta sebagian Asia Selatan, Tenggara, dan Timur.
Karena efeknya tidak merata, beberapa daerah akan mengalami kondisi tanam yang lebih baik, sementara daerah lain justru lebih buruk. Catatan dari Capital Economics memperingatkan bahwa produk pertanian yang paling terpengaruh adalah komoditas lunak.
Ini termasuk tanaman yang mudah rusak yang ditanam dan dirawat. Faktanya, selama El Niño sebelumnya pada 2023 dan 2024, kenaikan harga pertanian terbesar terjadi pada kopi dan kakao, menurut Capital Economics.
Booming AI
Perusahaan teknologi besar (hyperscalers) mengalirkan ratusan miliar dolar setiap tahun untuk membangun kapasitas kecerdasan buatan (AI) secepat mungkin. Ini menciptakan ketidakseimbangan yang memicu Inflasi.
Contohnya, permintaan chip memori untuk pusat data sangat tinggi sehingga pasokan untuk keperluan lain seperti elektronik konsumen menjadi tidak mencukupi.
Apple baru-baru ini mengumumkan kenaikan harga perangkat secara besar-besaran. Bahkan dikabarkan mencoba membeli chip dari produsen China yang masuk daftar hitam untuk mengatasi kelangkaan.
Notulen rapat terakhir The Fed juga mengungkapkan bahwa inflasi akibat AI menjadi perhatian para bankir. Presiden The Fed New York, John Williams, secara terbuka menyampaikan kekhawatiran ini dalam pidatonya pekan lalu.
Ia memperingatkan bahwa jika situasi ini ‘menciptakan dorongan permintaan yang terus-menerus melebihi pasokan, maka itu adalah situasi yang tidak bisa diabaikan,’ yang artinya The Fed akan terpaksa menaikkan suku
ber gedung khusus. bunga.
OK.
Tarif Trump
Tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump pada awalnya tidak terlalu mendorong kenaikan harga tahun lalu yang sebenarnya kurang dikhawatirkan, karena perusahaan-perusahaan menanggung sendiri tambahan biayanya.
Tapi tagihan untuk sisa biaya itu akan segera jatuh tempo, karena bisnis belum selesai menaikkan harga. Berdasarkan survei dari New York Fed, 47% perusahaan jasa dan 44% produsen yang membayar tarif secara langsung mengatakan mereka masih harus menaikkan harga ke konsumen.
Meskipun Mahkamah Agung membatalkan tarif global Trump, beberapa tarif lain seperti pada baja tidak terpengaruh. Pemerintah pun berencana memberlakukan tarif baru berdasarkan pasal 301 dari Undang-Undang Perdagangan tahun 1974.
"Hasil ini menunjukkan bahwa banyak bisnis masih menyesuaikan harga mereka, lebih dari setahun setelah tarif pertama kali diberlakukan," tulis peneliti New York Fed. "Tidak jelas apakah perusahaan merespon gelombang tarif tunggal atau serangkaian kenaikan yang terjadi setahun terakhir. Yang jelas, penyesuaiannya berjalan bertahap, sejalan dengan banyak penelitian yang menunjukkan bahwa tarif meresap ke harga konsumen secara bertahap, berlangsung selama hampir setahun, bukan sekaligus."
Lonjakan Harga Akibat Perang
Perang AS-Israel melawan Iran tidak hanya mengganggu pasokan minyak, tetapi juga menciptakan kejutan pasokan untuk bahan bakar seperti bensin dan solar.
Meskipun harga minyak mentah sudah turun dari harga tinggi saat perang, harga produk olahan lebih lambat turun. Permintaan di AS tetap tinggi sementara China baru saja melonggarkan pembatasan ekspor bahan bakar.
Di saat yang sama, serangan drone Ukraina ke infrastruktur minyak Rusia telah menghancurkan kapasitas pemurniannya. Ini memaksa Kremlin mengurangi ekspor bahan bakar agar kebutuhan domestik terpenuhi. Harga berjangka diesel melonjak 11% pada hari Rabu setelah Rusia mengatakan akan melarang ekspor bahan bakar penting ini.
Pengendara motor di Rusia telah meng antre panjang di SPBU.M sering kali sampai 18 jam,
serhingga—
hingga BBM penuh setelah dua mobil baru
Naskah diubah sedikit. Moskow bahkan dipaksa mengimpor bahan bakar dari India, meskipun Rusia sendiri adalah produsen minyak utama.
Sementara itu, serangan Ukraina terhadap kapal Rusia juga mempengaruhi ekspor gandum dan jalur pelayaran penting di Laut Hitam. Sebagai balasan, Rusia telah menyerang pusat-pusat penting pengiriman gandum Ukraina.
Harga gandum melonjak hingga 4,8% pada hari Jumat, kenaikan tertinggi sejak pertengahan Mei. Sementara itu, indeks harga Eropa juga naik hingga 5,7%, kenaikan tertinggi sejak pertengahan April.