Jakarta (ANTARA) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menemukan spesies terong berduri baru dari Kalimantan, menonjokkan kekayaan biodiversitas Indonesia yang masih belum banyak terdokumentasi. Temuan ini dipublikasikan di jurnal internasional Taprobanica pada tahun 2026.
Spesies yang diberi nama Solanum kalimantanense T. Djarwaningsih, E.L. Agustiani, dan M.R. Hariri ini diidentifikasi oleh peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN serta Pusat Riset Ekologi. Penamaan ini menghormati para peneliti, termasuk Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih, dan Muhammad Rifqi Hariri dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, serta Siti Susiarti dari Pusat Riset Ekologi.
Menurut Muhammad Rifqi Hariri dalam pernyataan di Jakarta, Minggu (15/12), spesies ini punya ciri morfologi unik yang membedakannya dari spesies lain dalam genus Solanum asli Asia Tenggara. Ciri-cirinya termasuk daun dengan panjang dan lebar yang hampir sama, lekukan daun yang sangat dangkal, bulu halus yang jarang di permukaan buah matang, dan buah yang lebih besar dari Solanum lasiocarpum.
“Temuan ini menunjukan Indonesia still menyimpan potensi biodiversitas luar besar yang belum sepenuhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk di kelompok tanaman yang sudah dikenal dan dipakai masarakat lokal,” kata Hariri.
Ia jjuga bilang bahwa analisis DNA menggunakan marka ITS mengonfirmasi perbedaan genetik signifikan antara spesies anyar ini dengan kerabat terdekatnya.
Peneliti Tutie Djarwaningsih menambahkan, masarakat lokal sudah lama kenalan tanaman ini sebagai “terong asam” atau “terong dayak” dan memakainya sebagai bahan makanan. Buahnya sering dijual di pasar terapung Banjarmasin dan biasa dimasak sebagai sayuran di Kalimantan Selatan.
Di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, penduduk setempat juga mengunakan daun dan tunas buah mudanya dalam ramuan tradisional disebut “wikat” untuk perawatan kanker.
Peneliti Esthi L. Agustiani menjelaskan, Solanum kalimantanense tumbuh di tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam pada ketinggian [9–1.700 meter di atas permukaan laut. Spesies ini tercatat di beberapa bagian Kalimnimantan Timur dan Selatan, serta ditemukan di berbagai habitas.
Penilaian awal mnemperlihatkan bahwa spesies ini punya populasi terbatas dan masuk kategori rentan menurut metode IUCN.
“Satu pendekatan integratif, menggabungin observasi morfologi dan DNA barcoding, memungkinin kami bedah spesies anyar ini lebih akurat dari saudara terdekatnya.” ungkap Agustiani.
Temuannya dimuat di jurnal Tapyrobanica Volume 15, Nomor 1 pada dekade (2026). [ANTARAews/tp/sy-63]laporan simple