Serangan Israel di Gaza Tewaskan Tiga Anggota Keluarga, Termasuk Bayi

Mohammad Abu Mallouh, Alaa Zaqlan dan anak mereka, Osama, tewas dalam serangan baru-baru ini di Kamp Pengungsian Nuseirat, menurut laporan tim medis.

Tayang pada 24 Mei 2026

Serangan udara Israel terhadap sebuah rumah di Gaza telah menewaskan tiga anggota sebuah keluarga, termasuk seorang bayi berusia enam bulan, demikian disampaikan oleh petugas medis. Israel terus melanggar “genjatan senjata” yang ditengahi oleh Amerika Serikat tahun lalu. Tabrak batu dalam genjatan senjata itu dianggap sia-sia.

Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir el-Balah, Gaza tengah, mengaku telah menerima jenazah sepasang suami-istri serta anak kecil mereka pada Minggu dini hari.

Daftar Kisah Rekomendasi

Petugas medis mengidentifikasi korban tewas dalam serangan di sebuah apartemen di Kamp Nuseirat yakni Mohammad Abu Mallouh, istrinya Alaa Zaqlan, dan anak mereka Osama, demikian laporan kantor berita Reuters.

Sekitar sepuluh orang terluka dalam peristiwa tersebut. Tidak ada komentar langsung dari militer Israel.

Sejak “genjatan senjata” mulai berlaku pada bulan Oktober, Israel terus melancarkan serangan hampir setiap hari di wilayah Palestina yang terkepung. Otoritas kesehatan Gaza menyatakan bahwa hampir 900 orang telah tewas akibat hal ini.

Melaporkan dari Kota Gaza, koresponden Al Jazeera Hani Mahmoud mengatakan bahwa pemboman Israel dimulai pada hari Minggu saat warga Palestina melarikan diri setelah perintah pengusiran paksa. Banyak orang berlari sambil membawa barang-barang pribadi, termasuk kasur.

Secara terpisah, pasukan Israel terus merobohkan rumah-rumah dan infrastruktur sipil di Gaza timur di belakang yang disebut “Garis Kuning” Israel—merujuk pada zona militer serta area penyangga fiktif di dalam enklave, kata Hani Mahmoud. Pesawat-pesawat tempur Israel juga melancarkan serangan udara di Deir el-Balah pada hari Minggu, mengakibatkan kerusakan berat di dekat sebuah rumah sakit.

MEMBACA  Narapidana Melarikan Diri Setelah Serangan di Penjara Terbesar Haiti

Awal bulan ini, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan adanya setidaknya 2.400 pelanggaran oleh Israel dalam enam bulan pertama gencatan senjata, termasuk lebih dari 1.100 serangan udara dan sedikitnya 921 penembakan terhadap warga sipil.

Lebih dari 72.000 warga Palestina telah terbunuh sejak Israel memulai perang genosida di Gaza pada Oktober 2023. Pejabat Israel mengakui keakuratan data tersebut pada Januari lalu, setelah sebelumnya meragukannya selama dua tahun.

Pada hari Sabtu, lima petugas polisi dan seorang anak laki-laki berusia 13 tahun terbunuh dalam serangan Israel lainnya.

Perundingan antara Israel dan Hamas untuk mengakhiri perang secara permanen menemui jalan buntu. Kedua belah pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata. Israel menyatakan bahwa penolakan Hamas untuk melucuti senjata adalah hambatan utama, sementara kelompok Palestina itu mengatakan negosiasi terhenti karena terus berlangsungnya pelanggaran dan pembatasan bantuan masuk ke Gaza.

Seperti yang dirilis akhir pekan, Human Rights Watch menyatakan prasarana kemanusiaan di wilayah itu masih berada dalam bahaya, lebih dari enam bulan setelah transisi di tahap pertama genjatan senjata terjadi.

Tinggalkan komentar