Dr. Bernice King: Mengapa Perusahaan yang Meninggalkan DEI Tak Pernah Betul-Betul Berkomitmen

Setelah pembunuhan George Floyd pada 2020, perusahaan-perusahaan di Amerika harus menghadapi kenyataan tentang rasisme. Banyak perusahaan berjanji untuk memperbaiki keragaman, keadilan, dan inklusi (DEI). Mereka bikin tim baru, buat posisi baru, dan janji untuk menciptakan tempat kerja yang lebih baik.

Tapi beberapa bulan terakhir, tekanan politik terhadap DEI semakin kuat. Banyak organisasi sudah mulai diam-diam mengurangi atau ninggalin janji mereka. 

Menurut Dr. Bernice A. King, CEO The King Center dan anak Martin Luther King Jr., ini menunjukan sesuatu yang dasar: banyak perusahaan tidak pernah benar-benar peduli sama DEI.

"Kalo kamu mundur begitu cepat, itu menunjukan siapa kamu sebenarnya," kata dia di Fortune Workplace Innovation Summit di Atlanta.

"Kalo kamu tau siapa kamu, kamu tau nilai-nilai kamu, dan kamu jalani nilai itu setiap hari, pas tekanan datang, kamu gak akan mundur."

Tapi King juga akui bahwa keputusan tentang DEI sering lebih rumit dari sekedar pilih antara mendukung atau meninggalkan. Bagi banyak pemimpin, resikonya bisa besar.

Dia kasih contoh universitas yang ditekan pemerintah federal soal kebijakan DEI. Pemimpin institusi yang bergantung pada dana penelitian dan kesehatan publik menghadapi pertanyaan berat seperti: "Bagaimana saya buat keputusan yang tetap maju dengan nilai DEI, tapi gak terkena masalah hukum besar?"

Costco, Delta, Patagonia: Kesamaan perusahaan yang tetap bertahan dengan DEI

Meskipun tekanan politik makin besar, beberapa perusahaan tetap pegang komitmen mereka dan bela itu di depan umum.

King sebut Delta Air Lines sebagai contoh. Di laporan ESG 2025, Delta bilang mereka "secara aktif menghargai keragaman" dan "mendorong keadilan dengan berani." Costco juga. CEO Ron Vachris bela upaya perushaan untuk ciptakan kesempatan sama bagi karyawan. Tahun lalu, mayoritas pemegang saham Costco tolak proposal yang minta perusahaan evaluasi resiko DEI.

MEMBACA  Saham Robinhood Markets (HOOD) Diprediksi Anjlok pada Tahun 2026

Jotaka Eaddy, CEO Full Circle Strategy, bilang memegang nilai-nilai itu yang bikin orang percaya, meskipun mereka gak setuju.

"Konsistensi itu penting banget. Konsumen dan karyawam mungkin gak setuju, tapi mereka akan hargai konsistensi," kata Eaddy. "Perubahan yang tiba-tiba bikin orang gak percaya."

Dia juga setuju dengan King, bahwa banyak perusahaan anggap DEI hanya seperti marketing, bukan prinsip bisnis yang dalam. Itu, kata dia, "kesalahan yang sangat berbahaya." Karena itu jadi gampang buat perusahaan mundur dari janji mereka.

Ketidak-konsistenan ini bisa bikin perusahaan kalah dalam perebutan talenta dan konsumen. Sebuah studi 2025 oleh Catalyst dan NYU nemuin bahwa 86% Gen Z lebih mungkin bertahan di perusahaan yang dukung DEI, dan 61% gak akan lamar ke perusahaan yang gak dukung.

Theresita Richard, kepala SDM Patagonia, bilang memegang nilai bisa dalam bentuk lain—yang penting apakah perushaan jalani setiap hari.

Dia kasih contoh Patagonia selama dukung keterlibatan masyarakat, misalnya dorong karyawan dan pelanggan bantu organisasi nirlaba. "Kekuatan bersama itu bikin perbedaan. Orang bakal lihat ini bener-bener nyata, bukan sekedar judul berita."

Dan akhirnya, King bilang kunci sukses bisnis jangka panjang adalah peduli, rendah hati, dan terbuka pada karyawan serta konsumen.

"Kita gak boleh takut untuk punya keberanian dan dekat dengan semua anggota tim, apapun komunitas mereka. Kita harus bisa dengar, kita harus bisa dengan, dan kita tunjukan dengan cara kita yang peduli."

Tinggalkan komentar