Rabu, 13 Mei 2026 – 18:22 WIB
Tangerang, VIVA – Belakangan ini, Hantavirus mulai ramai dibicarakan setelah ada laporan sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife, Spanyol, terinfeksi virus tersebut. Dari kasus yang dilaporkan, tiga orang dikabarkan meninggal dunia akibat infeksi yang tergolong langka tapi berbahaya ini.
Meski belum sepopuler COVID-19 atau flu burung, Hantavirus sebenarnya termasuk penyakit yang perlu diwaspadai karena bisa menyerang paru-paru hingga ginjal dan berakibat fatal jika terlambat ditangani. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Rio Yansen Cikutra, Sp.PD, virus ini umumnya ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.
“Infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yaitu saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Selain itu, kontak langsung dengan sarang tikus atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh area wajah juga meningkatkan risiko penularan," jelas dr. Rio Yansen, dalam keterangannya, dikutip Rabu 13 Mei 2026.
Hantavirus sendiri diketahui bisa memicu dua sindrom utama pada manusia, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang berdampak pada ginjal serta pembuluh darah.
Yang membuat penyakit ini cukup berbahaya adalah gejalanya di tahap awal sering mirip flu biasa. Penderita umumnya mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala hebat, hingga tubuh terasa lemas. Tak sedikit juga yang mengalami gangguan pencernaan seperti muntah, diare, dan nyeri perut.
Namun ketika kondisi memburuk, pasien bisa mengalami sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. Beberapa kasus, tekanan darah bisa turun drastis hingga menyebabkan syok serta gangguan fungsi ginjal.
Dokter Rio mengingatkan bahwa risiko penularan lebih tinggi pada orang yang sering beraktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, seperti gudang lama, area pertanian, perkebunan, hingga bangunan yang lama tidak dihuni.
Selain itu, membersihkan kamar tertutup yang penuh debu tanpa perlindungan juga dinilai berisiko. Partikel virus yang menempel di kotoran atau urine tikus bisa beterbangan di udara dan terhirup tanpa disadari.
Halaman Selanjutnya
Untuk mencegah paparan masyarakat, dop tetap jaga kebdirs
—
Typos/irregularities, up to 2 max & placed in result, (reason follow):**