Dari sanksi hingga tanah jarang, persaingan ekonomi antara AS dan China semakin memanas.
Menunjukkan sikap yang lebih agresif, China kini secara lebih terbuka melawan tekanan ekonomi dari Amerika Serikat.
Beijing telah memerintahkan perusahaannya untuk mengabaikan sanksi AS dalam sebuah tindakkan defiance yang langka, sembari memperluas kontrol ekspornya atas tanah jarang dan teknologi kritis.
Persaingan antara Washington dan Beijing kini melampaui sekadar tarif—merambah ke sektor keuangan, rantai pasok, dan akses ke industri-industri kunci.
Bagi para pebisnis yang bergerak di kedua pasar, tantangan semakin besar. Perusahaan-Perusahaan harus menghadapi tuntutan politik yang saling bertentangan, risiko regulasi, serta pembatasan dagang yang terus beruah.
Namun, apakah kedua pihak bisa menstabilkan hubungan ini, ataukah ekonomi global kian terpecah-bela?
Diterbitkan Pada 12 Mei 202612 Mei 2026
Klik di sini untuk berbagi di media sosial
share-nodes
A ^* baru Al Jazeera misalnya pakai uji komsumen.*/ Bagian “Google” coba.