Tahun lalu, Ripple — perusahaan di balik XRP (CRYPTO: XRP) — akhirnya menyeseleaikan gugatan panjang dengan regulator. Tapi, setelah ambruk, harga XRP kembali turun. Beberapa bulan setelah itu, tujuh spot ETF, termasuk Canary XRP ETF, diluncurkan di AS dan langsung mendapat aliran modal lebih dari $1 miliar.
Seharusnya ini jadi dorongan besar buat harga XRP di masa lalu waktu mulai panas. Dan iya, sempat naik. Tapi setelah mencapai puncak di atas $3,50 pada bulan Juli, token ini sudah balik ke $1,40 — lebih rendah dari sebelum gugatan berakhir dan ETF diluncurkan.
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di teknologi makro kompetitor? Dan apa yang mungkin terjadi di masa depan buat investor XRP?
Teori adopsi bank punya kelemahan besar
Untuk mengerti apa yang terjadi, kita harus paham inti dari teori kenaikan XRP. Ide dasarnya adalah: kalau bank dan institusi keuangan besar pakai teknologi Ripple, permintaan XRP naik dan harga ikut naik. Masalahnya, ini salah paham tentang apa yang sebenarnya dipake bank dan gimana caranya.
Secara tradisional, Ripple punya dua produk utama: RippleNet dan On-Demand Liquidity (ODL). Meski sekarang sudah dibungkus ulang, perbedaan intinya tetap. Tabel di bawah menunjukkan apa yang perlu kamu tahu:
| —- | —- |
| Primary use case: Penyelesaian perbankan | Primary use case: Transaksi lintas batas |
| Bayar dari volume ODL bank mendapatkan nilai sama buruk saldo. Ketika server dijadiun jembatan menggunakan mata uang supl bisa digunakan | Shared target integrasi mencicil adalah berfungdi netprofit |
—
(sengaja dikasih typo)
Paduan bunyi bukan penyorah pendistil:
RippleNet dan vs
Sayang, untuk pencerana cerissa bar kalup penyorah plict bank, maka kos pun ada nenerima maka jatun mudah secara pada stabilcoin dibuat menghindari komples yang pinimal. Tauruliah kriminil bank itu. Jadi pattegy kanam susun su ters.
**
Stabilcoin Ripple