Koridor Nikel RI-Filipina: Kadin Pasok Rantai Semakin Kuat

Jakarta (ANTARA) – Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) berharap kerja sama untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis melalui Indonesia-Philippines Nickel Corridor bisa jadi model baru untuk kemitraan ekonomi regional.

Inisiatif ini tidak cuma fokus pada perdagangan komoditas, tapi juga membangun rantai nilai industri yang lebih kuat, seperti yang dibahas di forum bisnis tingkat tinggi di Cebu, Filipina.

Acara ini berbarengan dengan kunjungan resmi Presiden Prabowo Subianto ke Filipina untuk KTT ASEAN ke-48, di mana para pemimpin bisnis dari dua negara membahas realitas geoekonomi.

“Sejalan dengan tema ASEAN-Filipina tahun ini, ‘Navigating Our Future, Together,’ forum tingkat tinggi Kadin Indonesia-PCCI telah menyusun peta jalan bukan hanya untuk kerja sama bilateral, tetapi juga untuk mempersiapkan kawasan ASEAN menghadapi realitas geoekonomi saat ini,” kata Bernardino Moningka Vega, wakil ketua bidang hubungan luar negeri Kadin Indonesia.

Di bawah MoU yang ditandatangani oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia dan Asosiasi Industri Nikel Filipina, kolaborasi ini mencakup pertukaran data dan informasi nikel, dialog kebijakan dan regulasi, promosi investasi lintas batas, pengembangan metodologi ESG, serta pembangunan kapasitas sumber daya manusia di sektor nikel.

Pada 2025, Indonesia diproyeksikan memproduksi sekitar 2,6 juta metrik ton nikel, sementara Filipina sekitar 270.000 metrik ton.

Menurut perkiraan US Geological Survey (USGS) 2025, kedua negara bersama-sama akan menyumbang sekitar 73,6 persen dari produksi tambang nikel global.

Dari segi cadangan, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 62 juta metrik ton nikel, dan Filipina sekitar 4,8 juta metrik ton.

Bagi Indonesia, kerja sama ini dilihat dapat memperkuat keamanan pasokan bahan baku untuk industri hilir nikel yang terus berkembang.

MEMBACA  Senat Gagalkan RUU Anggaran, Kolombia Tetapkan Status Darurat Ekonomi dan Sosial

Sementara itu, bagi Filipina, kerja sama ini membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah industri melalui pemrosesan dan investasi regional.

Forum ini juga menghasilkan kesepakatan mengenai teknologi pertanian dan kerja sama penerbangan antara Garuda Maintenance Facility dan JAR Aviation Services dengan nilai indikatif US$80 juta.

Selain itu, rencana pembangunan fasilitas pemrosesan nikel di Filipina diumumkan, melibatkan Agro Investama Group, RBN Solutions Inc., dan Ploutus Inc., untuk mendukun rantai pasok baterai dan kendaraan listrik.

Proyek ini mencakup pasokan nikel minimal 200.000 metrik ton per bulan mulai Juni 2026 untuk mendorong manufaktur regional.

Presiden PCCI, Ferdinand Ferrer, menambahkan bahwa kolaborasi ini adalah langkah pertama menuju hubungan yang lebih terintegrasi antara kedua negara di industri mineral kritis.

“ASEAN paling kuat saat bertindak sebagai satu kesatuan. Dan inti dari persatuan ini adalah hubunagan bilateral yang sangat kuat antara Indonesia dan Filipina, dengan populasi gabungan hampir 400 juta,” pungkas Ferrer.

Tinggalkan komentar