Gara-Gara Tarif, 2025 Bencana. Menerabas Perang Iran, Lebih Celaka pak Ekonom

“Ini benar-benar akan jadi zaman keemasan Amerika,” kata Presiden Donald Trump pada 2 April 2025, yang di kenal sebagai Hari Pembebasan. Hari itu, presiden memuji tarif sebagai cara untuk “membuat Amerika kaya lagi”. Investor Amerika yang punya saham kehilangan sekitar 10% kekayaannya karena pasar jatuh parah—salah satu krisis terburuk akhir-akhir ini. Indeks Dow turun hampir 4.600 poin, ambles 11% dalam empat hari. Kebijakan tarif sempat dibatalkan, lalu diberlakukan lagi sedikit demi sedikit, lalu dinyatakan ilegal, tapi tarif tetap bikin inflasi naik.

Itu baru permulaan, kata Mark Zandi. “Kenaikan harga energi dan komoditas lain karena perang ini bisa merusak ekonomi lebih parah dari tarif, menghambat pertumbuhan dan mendorong inflasi lebih tingi,” kata kepala ekonom Moody’s Analytics itu di postingan X.

Orang Amerika menghadapi banyak masalah ekonomi. Banyak perusahaan berhenti rekrut karyawan, pakai sikap tunggu dan lihat gara-gara tarif Trump. Semakin banyak perusahaan teknologi yang PHK karyawan karena pakai AI. Inflasi juga susah diredam, udah turun dari puncak 9,1% di Juli 2022, tapi masih di atas level sebelum pandemi. Banyak ekonom awal 2026 prediksi masalah tarif bakal mereda, tapi perang Iran bikin rencana kacau. Inflasi sekarang naik lagi akibat krisis energi dari perang. Zandi bilang pertumbuhan lapangan kerja bakal macet, jadi kombinasi berbahaya antara inflasi tinggi dan pertumbuhan lambat.

Kombinasi itu bikin beberapa ekonom bisikin kata S: stagflasi, istilah favorit ekonom untuk pertumbuhan mandek dan inflasi terus-terusan. Ini terjadi saat Selat Hormuz diblokade ganda dan resolusi konflik makin jauh karena serangan balik lagi hari Senin.

Bagaimana Moody’s prediksi dampak perang ke AS

Meski Mahkamah Agung batalkan tarif Trump yang dikeluarkan pake UU Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional, presiden terapkan lagi tarif lewat Section 232, bea yang tujuannya lindungi keamanan nasional AS. Laporan Maret dari Tax Foundation, yang niraliansi, menemukan tarif ini—meski lebih kecil dari yang sebelumnya—bakal kurangi PDB jangka panjang 0,2%, dan hilangkan 154.000 lapangan kerja.

MEMBACA  Nike Mem-PHK Lebih dari 1.500 Orang saat CEO Berkata 'Akhirnya Saya Bertanggung Jawab atas Diri Saya dan Tim Kepemimpinan Saya'

Zandi—yang sejak perang mulai udah peringatin soal resesi—makin tegas. Di postingan LinkedIn baru-baru ini, ekonom Moody’s ini bilang meski AS harusnya hindari resesi, ekonomi bakal makin lemah meski perang selesai dalam beberapa minggu.

“Ekonomi harusnya gak resesi, tapi pertumbuhan bakal jauh di bawah potensi, lapangan kerja tetap datar, dan pengangguran naik pelan-pelan,” katanya.

Harga bahan bakar tinggi bakal nyebar ke semua sektor, kata Zandi. Biaya energi tinggi bakal naikin harga paket kiriman, tiket pesawat, dan harga makanan dalam beberapa bulan ke depan. Ditambah lagi, catatan Goldman Sachs baru-baru ini bilang sampai Juli AS bakal mulai kehabisan bahan bakar jet, artinya maskapai besar bakal kurangi penerbangan drastis, kayak yang dilakukan beberapa maskapai Eropa.

Meski Zandi bilang di catatannya ekonomi bakal hindari resesi, prediksi resesi Moody’s capai 49% di Maret. Goldman Sachs juga perkirakan risiko resesi 30%, dan EY-Parthenon 40%.

Meski Zandi bilang perang bakal lemahkan pasar kerja, belum jelas apakah ini bakal pengaruhi perekrutan. Bloomberg lapor bahwa peramal perkirakan laporan kerja April hari Jumat bakal tunjukin penambahan sekitar 62.000 pekerjaan—dengan perekrutan sektor swasta lebih kuat lagi, menurut survei ekonom Bloomberg. Ini dampak dari laporan Maret yang lebih baik dari dugaan, di mana perusahaan tambah 178.000 pekerjaan dan tingkat pengangguran turun ke 4,3%.

Tapi Zandi tetap ragu apakah ekonomi AS bisa tahan pukulan ekonomi dari Selat Hormuz.

“Ekonomi AS itu kuat,” katanya, “tapi seberapa kuatnya bakal di uji.”

Tinggalkan komentar