Gremlin / E+ via Getty Images
Ikuti ZDNET: Add us as a preferred source di Google.
—
Intisari ZDNET
- Keberadaan antarmuka klasik (UI) semakin mendekati akhir hayatnya.
- Salesforce, sebagai indikator pasar, beralih langsung ke agen tanpa antarmuka browser.
- Dengan kecerdasan buatan, UI visual dapat dihasilkan "tepat saat dibutuhkan" oleh pengguna.
—
Baru-baru ini, Salesforce mengumumkan "Headless 360," di mana platform Salesforce, Agentforce, dan Slack kini diekspos sebagai API, MCP, dan CLI untuk agen. Agen-agen ini dapat mengakses data, alur kerja, dan tugas secara langsung tanpa memerlukan antarmuka browser.
Baca juga: Saya membangun dua aplikasi hanya dengan suara dan mouse—apakah IDE sudah usang?
Salesforce memang menjadi barometer. Masa depan UI semakin diarahkan untuk melayani agen yang tidak membutuhkan grafis memukau, tombol yang bisa diklik, atau titik masuk tertentu. Transisi ini telah dibahas oleh Michael Grinich, pendiri WorkOS, yang menyampaikan observasi dan prediksi pada TypeScript AI Demo Day di San Francisco pada bulan April lalu. "Kita sedang keluar dari era UI," ujarnya.
—
Antarmuka Sekali Pakai yang Dihasilkan Sesuai Permintaan
Menurut Grinich, UI berevolusi dari layar statis yang telah kita lihat selama puluhan tahun menjadi lapisan proyeksi yang dihasilkan "tepat waktu" dalam bentuk kotak teks sederhana. Dalam banyak kasus, manusia tidak lagi berinteraksi langsung dengan UI—aplikasi akan memberikan hasil melalui API yang terhubung dengan keluaran AI atau agen. Antarmuka yang dilihat pengguna, jelasnya, bersifat "sekali pakai—dihasilkan sesuai permintaan, lalu lenyap. Saat kamu butuh yang baru, buat saja antarmuka baru."
Ini membuka fase baru pengembangan perangkat lunak: solusi saat ini dan masa depan menjadi lebih mandiri dan otonom. "Perangkat lunak bergeser dari antarmuka yang kamu operasikan menjadi sistem yang menghasilkan hasil," katanya. "Pengguna menyampaikan niat, saran, atau ide. Dari situ, kamu mengirimkannya ke model, dan model itulah yang menciptakan UI serta tindakan."
Baca juga: Bagaimana kebangkitan perangkat lunak berbasis AI dapat memberikan kekuatan kelas enterprise pada UMKM.
Dalam proses ini, AI menata ulang antarmuka manusia-komputer—dan ironisnya, membuat komputasi lebih berpusat pada manusia. AI generatif, salah satu teknologi dengan pertumbuhan tercepat sepanjang masa, kini hanya menampilkan kotak teks sederhana yang bertanya, "Apa yang kamu inginkan?"
UI telah berevolusi "dari sakelar menjadi perintah, dari penunjuk ke kursor, dari sentuhan ke bahasa," ungkapnya. "Berkat model bahasa, kita mengalami terobosan. UI kini disintesis, dihasilkan per permintaan, tepat saat kamu membutuhkannya, sesuai konteks, dengan informasi langsung tentang apa yang ingin kamu capai dan dunia di sekitarmu."
—
Empat Cara Bersiap Menghadapi Transisi
Ini juga berarti perubahan dari sudut pandang pengguna. "Peran pengguna berubah dari operator," ujar Grinich—beralih dari sekadar pengguna menjadi kolabolator dan pada akhirnya menjadi direktur bagi agen-agen AI.
Grinich memberikan empat saran bagi profesional teknologi untuk menghadapi transisi ini:
Baca juga: Aturan baru untuk kode berbantuan AI di kernel Linux—yang perlu diketahui setiap pengembang.
- UI bukan lagi produk. Produk adalah kemampuan, model, dan data yang digabungkan. "UI hanyalah lapisan proyeksi dari semua itu. Sekadar cara merepresentasikan luaran," kata Grinich.
- Komponen tetap penting. UI "tidak lagi dirakit atau dirangkai dengan cinta oleh manusia," jelasnya. "Kamu memberikan elemen ke model, dan model yang menentukan apa yang harus dilakukan dengannya. Ini paradigma interaksi yang sangat berbeda dalam membangun UI, karena kamu tidak benar-benar tahu apa yang akan ditampilkan kepada pengguna. Kamu hanya perlu menyediakan elemen yang tepat untuk model bahasa besar (LLM) dalam konteks yang benar agar pengambilan keputusan berjalan baik."
- API menjadi permukaan sebenarnya yang kamu bangun. "UI bukan lagi produk—melainkan API," kata Grinich. "Agen tidak benar-benar mengklik tombol, mereka lebih suka API."
- Model adalah antarmuka. Antarmuka "direduksi menjadi API dan lapisan data," ujarnya. "Idenya adalah terus menyusut dan menyederhanakan segala sesuatu agar kognitif kita tidak terbebani." Grinich menganalogikannya dengan evolusi mobil yang terus mengurangi jumlah tombol dan sakelar di dashboard demi kendali digital yang lebih otonom. "Kamu tidak terlalu peduli soal menyetir, kamu peduli soal sampai ke tujuan."
Y Combinator, inkubator bisnis berbasis di Silicon Valley, melontarkan satu baris instruksi klasik pada klien mereka: "buatlah sesuatu yang diingini orang." Grinich bercerita, "Saya mungkin menambahkan sedikit suntingan: buatlah sesuatu yang diingini agen. Karena agen akan melakukan segalanya bagi manusia. Jika kamu ingin melayani manusia, artinya kamu juga harus melayani agen mereka."