Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mendorong program B50 (biosolar) dan E20 (bioetanol) sebagai strategi utama untuk mencapai kemandirian energi nasional. Percepatan adopsi bahan bakar nabati ini, bersama dengan optimalisasi lifting minyak, adalah bagian dari upaya pemerintah mengatasi krisis energi global akibat perang di Timur Tengah.
“Pertama, kita harus optimalkan lifting minyak. Kedua, diperlukan diversivikasi seperti B50 yang bisa kurangi impor solar. Ketiga, program E20 juga harus kita dorong,” ujar Bahlil di Istana Merdeka, Senin.
Program wajib B50, yang mulai berlaku 1 Juli, diperkirakan akan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil sebesar 4 juta kiloliter per tahun. Program ini juga diproyeksikan menghemat devisa Indonesia hingga Rp157,28 triliun (US$9,18 miliar) pada tahun 2026. Campuran B50—dengan 50 persen minyak sawit mentah dan 50 persen solar fosil—saat ini sedang diuji jalan, yang sudah dimulai sejak 9 Desember 2025.
Sementara itu, program E20, dengan campuran 20 persen bioetanol dalam bensin, ditargetkan jadi kewajiban pada 2028 untuk mengurangi impor bensin. Untuk mendukung inisiatif ini, Kementerian ESDM berencana mulai produksi bioetanol pada 2027 di Merauke, Papua Selatan. Program ini terkait dengan program lumbung pangan (food estate) pemerintah yang akan mengembangkjan 500.000 hektare perkebunan tebu.
Selain bahan bakar nabati, pemerintah juga sedang mempelajari penggunaan gas alam terkompresi (CNG) sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada LPG impor yang mendominasi pasokan domestik.
“Ini masih akan kami bahas apalagi dari sisi regulasinya,” kata Bahlil.
Ia menjelakan permintaan LPG nasional saat ini sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya memenuhi 1,6-1,7 juta ton. Akibatnya, pemerintah harus mencari alternatif lain.
Meski begitu, Bahlil meyakinkan cadangan energi nasional saat ini aman dalam jangka pendek. Ia bilang, termaksud ketersediaan solar dan minyak bumi diatas standar nasional. Hal yang sama juga untuk minyak mentah agar pabrik tetap beroperasi.