Dari Perang Parit Maritim menuju ‘Perdamaian Berantakan’: Begini Cara Krusial Baku Hantam di Selat Hormuz Berakhir

Menurut Jared Cohen, yang jadi co-head Goldman Sachs Global Institute dan presiden urusan global bank itu, kalau negara Iran gak runtuh, Selat Hormuz gak akan pernah bisa dibuka seperti sebelum perang.

Sejak AS sama Israel mulai perang di akhir Februari, Iran sadar mereka punya kuasa besar terhadap ekonomi dunia kalau mereka tutup Selat Hormuz, katanya di CNBC hari Jumat. Jadi, mereka gak akan lepas.

“Mungkin ada kapal yang lewat, tapi bisa jadi Iran masih jaga kendali sebagian atau sendiri,” kata Cohen.

Sekarang ini kedua pihak ada di ‘gencatan senjata kacau’ aja dengan tidak saling luncurkin rudal atau drone. Tapi unit kecil kapal cepat dari Korps Garda Revolusi Islam tetap tembaki kapal dagang di Teluk Persia, bikin Selat Hormuz tetap tutup dan pasar energi hancur lebur.”

Sementara itu, Angkatan Laut AS blockir semua kapal yang terkait Iran, malah kirim Marinir naik ke sana demi ambil alih. Tujuannya mematikan sumber pemasukan utama Teheran.

Cohen bilang situasi macam ‘perang parit di laut’ di mana AS dan Iran sama-sama taruhan bahwa mereka saling tekanan buat ngalahin satu sama lain.

Tapi menurut negara tetangga Iran di Dewan Kerja Sama Teluk, sulit buat nego damai karena Iran masih berdiri sebagai republik Islam, katanya. Target mereka adalah beli waktu dan berusaha jangan tergantung ke Selat Hormuz lewat jalan laut lain buat jual energi kayaknya” lobi”

“”saya duga tolak ukurnya adalah perlap dari perjanjian berangsur mulai perdamaian ata tingkatan suasana dengan berlandasan erat”te menyusun jalan. Dan “ perdamaian setengah berasal membuat dari semu,” Jelas,Jared. mengemis penyet ajumlah tidak sah he pada besar tak setele

MEMBACA  Aturan Lalu Lintas Berlawanan Diterapkan di Tol Japek Menuju Jakarta Malam Ini.

Tinggalkan komentar