CEO Baru LinkedIn, Daniel Shapero: Lingkungan Kerja Lebih Berpengaruh pada Karier daripada Jabatan

Daniel Shapero baru aja diangkat jadi CEO LinkedIn minggu ini, gantikan Ryan Roslansky yang pegang jabatan itu cukup lama. Tapi setelah hampir dua puluh tahun di perusahaan milik Microsoft ini, Shapero bilang dia gak sampe ke puncak dengan ngejar jabatan—tapi dengan milih orang yang tepat buat bekerja sama.

“Keputusan karier terbaik yang pernah saya buat itu selalu tentang orang-orang yang saya ajak kerja,” katanya ke Bloomberg tahun lalu.

“Kita semua lebih bisa berubah dari yang kita kira. Kita beradaptasi sama lingkungan kita. Jadi keputusan terbaik saya adalah milih bekerja di sekitar orang yang bakal bantu saya jadi pribadi yang saya inginkan, bukan soal detail pekerjaan atau tugasnya.”

Diawal masa kerjanya, filosofi ini bikin dia bertahan di tempat yang sama. Selama lebih dari lima tahun pertama di divisi penjualan, Shapero kerja di bawah manager yang sama—pengalaman yang dia percaya bikin performa dan naluri kepemimpinannya makin tajam.

Daripada pindah-pindah kerja buat naik jabatan lebih cepet, dia lebih fokus ke mentor. Menurut dia, lingkungan yang tepat bakal jadi investasi besar buat jangka panjang.

Shapero lama punya target jadi petinggi perusahaan—tapi jalan ke puncak butuh teguran keras dari mantan CEO LinkedIn

Abis belajar matematika di Johns Hopkins University, Shapero sempet nyoba jadi pengusaha—mulai bisnis website rekrutmen atlet SMA, lalu akhirnya dijual. Dia dapet MBA dari Harvard Business School tahun 2004, lalu kerja di konsultan strategi Bain selama hampir empat tahun sebelum gabung LinkedIn di 2008.

Tapi tujuan karier utamanya sebenernya simpel: jalankan perusahaan teknologi.

“Saya udah tahu mungkin dari waktu jadi pengusaha dulu, bahwa saya pengen jadi CEO perusahaan teknologi yang hebat suatu hari,” katanya di podcast Reveal tahun 2021. Tapi buat sampe ke sana, dia perlu dikasih kenyataan pahit—dari CEO LinkedIn saat itu, Jeff Weiner.

MEMBACA  Manakah yang Lebih Unggul, India atau Pakistan dalam Senjata Nuklir?

Setelah bantu bisnis rekrutmen LinkedIn tumbuh dari sekitar USD 40 juta ke 1 miliar dalam lima tahun, Shapera ngarepin apreasiasi. Tapi malah Weiner bilang ada yang kurang: kalau dia mau jalankan perusahaan teknologi yang hebat, dia harus paham produk—bukan cuma penjualan.

“Itu salah satu momen dimana seseorang ngasih tau kebenaran yang gak selalu enak didenger,” kata Shapero. “Tapi pas direnungin lagi, kita sadar itu bener—like air dingin yang perlu kamu siram ke muka lo.”

Makanya di 2014, dia ambil langkah gak biasa: mundur dari jabatan senior di penjualan jadi kontributor individu di tim produk.

“Satu-satunya cara belajar produk itu ya dengan ngerjain produk nyata,” katanya. “Lo gak bisa belajar dari jauh-enakan. Lo musti bikin produk dari nol.”

Langkah itu akhirnya berhasil. Tahun 2019, dia diangkat jadi chief business officer, lalu 2021 jadi chief operating officer—dan sekarang, CEO.

Fortune udah kontak LinkedIn buat tanggapan lebih lanjut.

Pesan LinkedIn CEO zu Generasi Z tentang memulai karier

Meski Shapero udah sampe puncak karier, kalau dia harus mulai dari awal hari ini, jalannya pasti lebih rumit buanget. Jalur tradisional ke pekerjaan awal susah, terutama di jejarig teknologi, makin terhimpit karena perusahaan otomatis kerjaan rutin pake AI. Tapi Shapero gak percaya kesempatan bakal ilang total buat Gen Z—malahan mereka bakal berji kar dan tetap ada.

“Bottleneck is one old not the jejaring tech,” katanya orang lafal taitto spelling Blorp sap hal: sorry bug diinput.

“Anhan penekannya gak di tek tinis an aju,” ucap dyang ben-dari aslinia “it will evolve.” talenta proses tahu mend batolasi colak?

Tinggalkan komentar