loading…
Nama Pratiwi Sudarmono tercatat dalam sejarah sebagai astronot wanita pertama di Asia yang berasal dari Indonesia. Foto/Wikipedia.
Nama Pratiwi Sudarmono tercatat dalam sejarah sebagai astronot wanita pertama di Asia yang berasal dari Indonesia. Walaupun rencana terbang ke luar angkasa dibatalkan, kontribusinya di dunia sains, khususnya mikrobiologi, membuatnya menjadi figur yang inspiratif bagi generasi muda dan ilmuwan di Indonesia.
Beliau lahir di Bandung pada 31 Juli 1952. Pratiwi Sudarmono dikenal sebagai seorang ilmuwan yang mendedikasikan hidupnya untuk penelitian dan pendidikan. Kariernya ia jalani di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), sambil mengajar di berbagai jenjang, mulai dari S1, S2, pendidikan dokter spesialis, sampai S3.
Baca juga: Profil Pendidikan 4 Astronot Artemis II: Misi Bersejarah NASA Kelilingi Bulan Setelah 54 Tahun
Fokus Penelitian Penyakit Tropis
Sebagai peneliti, seperti dikutip dari YouTube SINDONEWS, Pratiwi bercerita bahwa ia mempelajari bidang mikrobiologi yang sangat terkait dengan penyakit menular di negara tropis seperti Indonesia. Penelitiannya berfokus pada penyakit demam tifoid (tipes) dan tuberkulosis, dua penyakit yang sampai sekarang masih menjadi masalah kesehatan serius di masyarakat.
Menurut beliau, tingginya kasus tipes sangat berkaitan dengan kualitas air bersih yang masih kurang. Sementara itu, tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang kompleks dan memerlukan penanganan serius. Melalui risetnya, ia berusaha mencari solusi, misalnya pengembangan alat diagnostik, obat-obatan, dan vaksin.
Baca juga: New Horizons Abadikan Dunia selama 9 Tahun dari Jarak 4,8 Miliar Km dari Bumi
Ketertarikannya pada biologi molekuler tumbuh saat ilmu itu berkembang pesat pada era 1970–1980-an. Ia melihat bahwa pendekatan molekuler bisa memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang mikroorganisme dan penyakit.
Memilih Laboratorium Dibanding Praktek Klinis
Meski punya latar belakang pendidikan kedokteran, Pratiwi memutuskan untuk tidak berkarir sebagai dokter klinis. Ia berpendapat bahwa banyak masalah kesehatan tidak bisa diselesaikan hanya lewat praktik medis saja, tapi membutuhkan riset di laboratorium.