Bantuan Pangan untuk Korban Bencana: Mengapa Harus Memenuhi Kebutuhan Nutrisi?

Sabtu, 11 April 2026 – 19:49 WIB

Bencana nggak cuma ninggalin kerusakan fisik, tapi juga bikin tantangan serius buat kesehatan masyarakat, terutama dalam hal pemenuhan gizi. Di fase setelah bencana, akses makanan yang terbatas, perubahan pola makan, dan kurangnya pengetahuan gizi yang tepat sering ningkatin risiko kekurangan gizi, terutama pada kelompok rentan.

Oleh karena itu, usaha pemulihan nggak cukup cuma fokus pada bantuan darurat, tapi juga perlu dibarengi dengan edukasi dan penguatan kemampuan masyarakat supaya kebutuhan gizi mereka tetap terpenuhi dengan tepat dan berkelanjutan.

Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), H. Budi Setiawan, S.T., ngegasin kalo bantuan untuk korban bencana harus disesuaikan sama kebutuhan nutrisi yang tepat. Pemberian asupan yang salah, seperti kental manis yang diseduh, malah berisiko memperburuk kondisi kesehatan mereka.

“Kelompok rentan yang setiap harinya dikasih asupan instan seperti kental manis bisa mengalami gangguan kesehatan yang serius nantinya,” ujar Budi.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Dr. Tria Astika Endah Permatasari, S.K.M., M.K.M. Beliau nandain bahwa konsumsi produk tinggi gula secara terus-terusan bisa ngerusak pola makan alami anak.

“Kandungan gula yang mencapai 5–10 gram per 100 ml dalam sekali minum kental manis seduh udah sangat berisiko bagi tubuh,” jelas Tria.

Beliau juga ngasih tau bahwa kental manis sering jadi pilihan praktis di lokasi bencana karena gampang didapetin dan disajikan. Tapi, justru di situasi setelah bencana itu, kewaspadaan terhadap nutrisi balita harus ditingkatkan biar nggak nyebabin masalah kesehatan baru di pengungsian.

Nah, terkait hal itu, Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah bareng mitra ngambil langkah nyata buat mendorong pemulihan gizi masyarakat di daerah kena bencana dengan ngadain edukasi buat kader dan relawan. Usaha ini dilakukan sebagai respons atas meningkatnya kerentanan gizi, terutama pada kelompok rentan kayak ibu hamil, balita, dan lansia, yang sering muncul setelah bencana.

MEMBACA  Menteri Serukan Inovasi dalam Peringatan Hari Transportasi 2025

Kegiatan ini dihadiri puluhan kader dari kabupaten Aceh Tamiang (Aceh), Langkat (Sumatera Utara) dan Agam (Sumatera Barat), serta para mitra seperti Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Rangkul Foundation yang digagas Zaskia Adya Mecca. Lewat kegiatan ini, kader dan relawan dibekali pengetahuan sama keterampilan praktis buat mastiin pemenuhan gizi masyarakat tetap terjaga selama masa pemulihan.

Halaman Selanjutnya

Sementara itu, Rektor Universitas ‘Aisyiyah sekaligus Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., nandain kalo gizi sering kali jadi hal yang kelupaan dalam penanganan bencana. Padahal, gizi itu kunci utama pemulihan para penyintas.

Tinggalkan komentar