Industri Truk Indonesia Terpuruk, Terancam Ambruk Perlahan

Kamis, 9 April 2026 – 14:27 WIB

Jakarta, VIVA – Industri kendaraan niaga di Indonesia saat ini sedang menghadapi tekanan. Di balik kapasitas produksi yang besar, penggunaan pabrik yang rendah mulai menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap pekerja, termasuk kemungkinan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara menjelaskan, industri otomotif nasional sebenarnya memiliki dasar yang kuat dan sejarah panjang, terutama dari sektor kendaraan niaga.

"Industri kendaraan bermotor di Indonesia itu dimulai dari kendaraan niaga. Perjalanannya sudah lebih dari 50 tahun," ujar Kukuh di Kemayoran, Jakarta, Kamis 9 April 2026.

Namun saat ini, keadaan industri tidak sepenuhnya mencerminkan kapasitas yang ada. Secara total, kapasitas produksi otomotif nasional mencapai sekitar 2,59 juta unit per tahun. Sayangnya, realisasi produksi masih jauh di bawah angka tersebut, yaitu hanya sekitar 1,3 sampai 1,4 juta unit per tahun.

Artinya, sebagian besar fasilitas produksi belum digunakan secara optimal. Kukuh menyebut, tingkat penggunaan pabrik di beberapa produsen kendaraan niaga bahkan masih di bawah 50 persen.

Keadaan ini dinilai berpotensi berdampak pada tenaga kerja. Meskipun jumlah pekerja langsung di industri kendaraan bermotor tercatat sekitar lima ribu orang, efek sebenarnya jauh lebih luas karena melibatkan industri komponen, distribusi, hingga layanan purnajual.

"Yang bekerja langsung mungkin sekitar 5.000 orang, tapi di belakangnya ada industri komponen, bengkel, dan lain-lain. Dampaknya sangat besar," kata dia.

Penurunan aktivitas produksi berisiko memicu langkah efisiensi dari perusahaan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berakhir pada pengurangan tenaga kerja jika tidak segera ditangani.

Salah satu faktor yang menekan industri dalam negeri adalah meningkatnya impor kendaraan niaga dalam kondisi utuh atau completely built up (CBU). Menurut Kukuh, produk impor tersebut memiliki daya saing harga yang tinggi sehingga sulit untuk dilawan oleh produk lokal.

MEMBACA  Kementerian Perbaiki Distribusi Ayam untuk Tingkatkan Asupan Protein

"Begitu volume impor naik, penjualan produk dalam negeri otomatis tertekan," ujarnya.

Situasi ini semakin memperburuk kondisi pasar yang memang sedang melemah dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan kendaraan nasional yang sebelumnya berada di kisaran 1 juta unit lebih per tahun, kini turun menjadi sekitar 800 ribuan unit.

Halaman Selanjutnya

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh produsen kendaraan penumpang, tetapi juga sektor kendaraan niaga yang sangat bergantung pada aktivitas ekonomi.

Tinggalkan komentar