Kamis, 9 April 2026 – 05:00 WIB
Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengklaim menang pada hari Rabu, setelah bersama Israel menyetujui gencatan senjata selama dua minggu. Tapi, situasi langsung memanas kembali. Di tengah kesepakatan itu, militer Israel malah melancarkan serangan ke beberapa kawasan komersial dan permukiman padat di pusat kota Beirut pada Rabu sore waktu setempat tanpa ada peringatan.
Akibat serangan ini, sedikitnya 112 orang dilaporkan meninggal dan ratusan lainnya terluka. Iran menilai tindakan Israel ini sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sebelumnya telah diumumkan oleh Presiden Trump.
Mengutip AP News, Kamis 9 April 2026, Komandan kedirgantaraan Garda Revolusi Iran, Jenderal Seyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa serangan ke Lebanon dianggap sama dengan menyerang Iran. Dia juga memperingatkan bahwa pihaknya sedang menyiapkan balasan yang besar, walaupun belum menjelaskan detilnya.
Sementara itu, dari pihak Israel, Kepala Staf Militer Letjen Eyal Zamir menyatakan negaranya akan terus memanfaatkan setiap kesempatan untuk menghantam kelompok Hizbullah. Militer Israel bahkan mengklaim telah menyerang lebih dari 100 target di Lebanon hanya dalam waktu 10 menit pada hari Rabu, dan menyebutnya sebagai serangan terbesar sejak tanggal 1 Maret.
Diberitakan sebelumnya, Rabu 8 April 2026, Donald Trump mengumumkan tentang gencatan senjata di media sosial Truth miliknya. Pengumuman ini disampaikan kurang dari dua jam sebelum batas waktu yang dia tetapkan sendiri, yaitu pukul 20.00 waktu AS, untuk melancarkan serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Rencana serangan itu sebelumnya sudah diperingatkan oleh para ahli hukum internasional, sejumlah pejabat dari berbagai negara, hingga Paus, sebagai tindakan yang berpotensi termasuk kejahatan perang.
Beberapa jam sebelumnya, Trump sempat menulis di Truth Social bahwa peradaban Iran akan hancur dalam semalam jika tidak tercapai kesepakatan. "Sebuah peradaban akan musnah malam ini, dan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Saya tidak ingin itu terjadi, tapi kemungkinan besar akan terjadi," tulisnya seperti dikutip dari laman The Guardian, Rabu 8 April 2026.
Bahkan, pesawat pengebom B-52 dilaporkan sudah dalam perjalanan menuju Iran sebelum akhirnya kesepakatan gencatan senjata diumumkan.
Namun pada Selasa malam, Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut berhasil dimediasi oleh Pakistan. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, disebut meminta masa damai selama dua minggu agar proses diplomasi bisa berjalan dengan baik.
Halaman Selanjutnya
Dalam pernyatannya, Trump mengatakan bahwa ia bersedia menghentikan serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Iran membuka Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman.