MUI Serukan Penghentian Perang, Mendesak AS dan Israel Akhiri Konflik

loading…

Pimpinan MUI saat menyampaikan taujihat MUI terkait Perang Iran vs Israel-Amerika Serikat di Kantor MUI, Jakarta, Senin (6/4/2026). FOTO/IST

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan penghentian perang serta penegakan hukum internasional dan keadilan kemanusiaan di tengah eskalasi konflik global. Seruan ini disampaikan melalui taujihat MUI yang dibacakan secara bergantian oleh para pimpinan MUI di kantor mereka di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Taujihat tersebut dibacakan oleh Wakil Ketua Umum MUI KH. Marsudi Syuhud, Ketua MUI Buya Pasni Rusli, Wakil Sekretaris Jenderal MUI Hj. Safira Machrusah dan KH. Arif Fahrudin, serta Ketua HLNKI MUI H. Bunyan Saptomo.

MUI menegaskan bahwa ajaran Islam memiliki landasan kuat untuk menolak segala bentuk kerusakan. Dalam Islam, perdamaian (islah) disebut jauh lebih utama dibandingkan konflik bersenjata.

“Penghentian agresi merupakan bagian dari perintah agama, yaitu upaya menghentikan kerusakan yang ditimbulkan oleh pihak-pihak yang berperang,” tulis MUI dalam taujihatnya.

Wakil Ketua Umum MUI, KH. Marsudi Syuhud mengatakan, pihak yang memulai perang memiliki tanggung jawab moral untuk mengakhirinya. Ia menilai Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang memulai konflik ini.

MUI menyarankan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menyatakan secara terbuka penghentian perang. “Pernyataan sederhana namun kuat seperti, ‘Saya yang memulai perang, maka saya yang mengakhirinya,’ memiliki kekuatan moral dan wibawa untuk menghentikan konflik,” ujar Kiai Marsudi.

Menurutnya, jika Iran terus diserang, maka perlawanan akan terus berlanjut. Karena itu, penghentian konflik harus dimulai dari pihak yang menginisiasi perang.

10 Poin Taujihat MUI

Dalam taujihatnya, MUI menegaskan bahwa perdamaian dunia tidak akan terwujud tanpa penghentian kezaliman dan penegakan keadilan. MUI juga menyoroti dampak agresi militer di kawasan Timur Tengah yang menyebabkan korban jiwa, kehancuran infrastruktur, serta instabilitas global.

MEMBACA  Puan Serukan Empati di Natal dan Kesederhanaan Tahun Baru di Tengah Bencana

Tinggalkan komentar