Senin, 6 April 2026 – 09:56 WIB
Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif, tapi ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.015 pada Kamis, 2 April 2026. Posisi ini melemah 13 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.002 pada perdagangan Rabu, 1 April 2026.
Sementara itu, perdagangan di pasar spot pada Senin, 6 April 2026 hingga pukul 09.04 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 16.997 per dolar AS. Posisi itu melemah 17 poin atau 0,10 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.980 per dolar AS.
Tumpukan uang rupiah dengan berbagai nominal
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pemerintah memperkirakan defisit APBN akan melebar dari target. Hal ini seiring dengan pembengkakan belanja subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.
“Setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel akan menambah Rp 6 triliun terhadap defisit, yang sebelumnya ditargetkan Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB,” kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 6 April 2026.
Meski dipercaya tetap di bawah batas 3 persen, defisit APBN bisa melebar ke 2,9 persen terhadap PDB. Terutama jika harga minyak konsisten berada di level US$100 sepanjang tahun.
Namun, pemerintah diyakini masih memiliki ruang fiskal. Salah satu alasannya karena harga minyak dunia juga masih berfluktuasi. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen terhadap PDB, dengan salah satu asumsi yaitu Indonesian Crude Price (ICP) di level US$70 per barel.
Pelebaran defisit ini tidak terlepas dari membengkaknya belanja subsidi. Apalagi, APBN akan tetap berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) dari kenaikan harga minyak, setelah pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM. Sehingga, anggaran subsidi energi berpotensi membengkak hingga Rp 100 triliun untuk meredam kenaikan harga minyak.
Oleh karena itu, pemerintah akan terus melakukan penghematan untuk mengantisipasi jika harga minyak terus bertengger di US$100 per barel sepanjang tahun. Beberapa cara yang dilakukan antara lain penghematan belanja kementerian/lembaga hingga tiga tahap, serta pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL) untuk menutupi defisit.
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.000-Rp 17.040,” ujarnya.
Sebagai informasi, Donald Trump mengatakan AS akan terus menyerang Iran, termasuk target energi dan minyak selama beberapa minggu ke depan dan tidak memberikan komitmen pada jangka waktu spesifik untuk mengakhiri perang.