Menurut sebuah laporan, Pentagon telah memilih dua perusahaan untuk membangun purwarupa teknologi kunci dalam rencana Kubah Emas (Golden Dome) Trump yang kontroversial.
Startup satelit Impulse Space dan perusahaan teknologi pertahanan Anduril ditunjuk untuk mengembangkan prototipe teknologi pelacakan dan penargetan misil berbasis luar angkasa yang akan membentuk Kubah Emas, seperti dilaporkan Bloomberg dengan mengutip sumber anonim.
Kubah Emas merupakan rencana ambisius pemerintahan Trump untuk menciptakan jaringan satelit berbasis luar angkasa guna mendeteksi dan menggagalkan setiap serangan udara potensial di wilayah Amerika Serikat. Ancaman semacam ini sebetulnya tidak terlalu mendesak untuk segera diatasi, mengingat serangan militer yang sukses di daratan AS belum terjadi sejak Perang Dunia II.
Trump mengumumkan proyek ini dalam sebuah perintah eksekutif saat ia menjabat pada Januari 2025, namun sejak itu, linimasanya sebagian besar dirahasiakan. Sebuah laporan Congressional Budget Office dari Mei 2025 menyatakan pembangunannya bisa memakan waktu 20 tahun. Namun, laporan CNN pada Agustus 2025 mengklaim bahwa uji coba besar pertama Kubah Emas dijadwalkan tepat sebelum pemilihan presiden 2028. Laporan tentang kontrak yang ditandatangani antara Pentagon dengan perusahaan-perusahaan teknologi luar angkasa dan pertahanan ini memberikan gambaran bagaimana pemerintahan bergerak maju dengan program tersebut.
Inti dari jaringan satelit ini adalah interceptors berbasis luar angkasa, yang akan menemukan dan menghancurkan misil serta drone musuh pada tahap awal. Teknologi itu sendiri belum ada dan dinilai secara teoritis tidak efektif dan tidak praktis.
Berdasarkan permintaan informasi dari Juni 2025, Angkatan Luar Angkasa AS (Space Force) mulai melakukan riset pasar terkait kemampuan interceptor berbasis luar angkasa pada musim panas lalu. Mereka menyatakan setelah meninjau respons, dapat bertemu dengan perusahaan terpilih untuk membahas langkah selanjutnya. Kini, laporan Bloomberg mengklaim bahwa Impulse Space, yang dipimpin oleh Tom Mueller (karyawan pertama Elon Musk di SpaceX), akan bekerja sebagai subkontraktor bagi Anduril untuk mengembangkan teknologi ini.
Sebuah laporan Reuters sebelumnya menyatakan bahwa kontraktor pertahanan Northrop Grumman, True Anomaly, dan Lockheed Martin, bersama dengan Anduril, juga bekerja sama dengan pemerintah untuk membangun prototipe interceptors berbasis luar angkasa dan sistem terkait lainnya untuk Kubah Emas. Perusahaan-perusahaan tersebut sejauh ini telah memenangkan penghargaan awal dan akan bersaing untuk kontrak produksi akhir, demikian kata Reuters saat itu.
Rencana-rencana “moonshot” serupa untuk sistem pertahanan misil yang sangat kuat telah digaungkan sejak masa Presiden Reagan, namun rencana-rencana itu tak pernah benar-benar dan sepenuhnya diwujudkan. Sejumlah kritikus menyebut program ini mustahil secara ilmiah dan kemungkinan sangat mahal, dengan satu studi memperkirakan biayanya mencapai $3,6 triliun hingga tahun 2045.
Lembaga think tank terkemuka The Brookings Institution menyebut rencana ini sebagai “deploymen interceptors berbasis luar angkasa yang mahal dan mendestabilkan,” serta memperingatkan bahwa hal ini dapat mendorong deploymen serupa oleh Tiongkok dan Rusia, sehingga menciptakan “perlombaan senjata baru yang justru akan membuat kita kurang aman.”