Mohamad Jihad Fakih, seorang penjual dan grosir mobil di Tampa Bay, Florida yang berusia 27 tahun, menghadapi hukuman penjara. Dia terbukti bersalah dalam skema yang melibatkan pinjaman palsu, pembeli fiktif, klaim asuransi bodong, dan mobil SUV Rolls-Royce yang dicuri.
Fakih dihukum penjara selama empat setengah tahun karena konspirasi melakukan penipuan melalui kawat dan mencoba mengekspor kendaraan curian, menurut laporan Kantor Jaksa A.S. Distrik Florida Tengah (USAO).
Dia juga diperintahkan untuk menyerahkan uang sebesar $378,886.96, yang didapat dari konspirasi penipuan tersebut, kata USAO dalam siaran persnya.
Berdasarkan dokumen pengadilan, Fakih dan seorang temannya menarget perusahaan pembiayaan mobil. Mereka mengajukan aplikasi pinjaman palsu lewat situs web dealer milik Fakih. Dia dan teman-temannya bekerja sama dengan pembeli fiktif yang sebenarnya tidak berniat membeli mobil.
Fakih lalu mengambil uang pinjaman itu dan memberi sebagian ke temannya dan para pembeli fiktif. Dia juga menggunakan uang pinjaman palsu itu untuk beli mobil dan coba ekspor keluar negeri.
Dalam kasus yang lebih sederhana, Fakih menggunakan pembeli fiktif untuk mendapatkan SUV Rolls-Royce Cullinan senilai $460,000 yang dicuri, lalu mencoba mengekspornya. Tetapi kontainer pengirimannya disita oleh Bea Cukai AS.
USAO juga melaporkan bahwa Fakih mengajukan klaim asuransi palsu untuk mobil-mobil dengan melaporkannya sebagai dicuri.
Dalam urusan pinjaman dan pembelian mobil, penipuan merugikan baik konsumen maupun pemberi pinjaman.
Menurut laporan TransUnion, antara Maret dan September 2023, kerugian akibat penipuan pinjaman mobil 21 kali lebih besar dari kerugian akibat penipuan kartu kredit, dan enam kali lebih besar dari kerugian akibat penipuan pinjaman pribadi.
Baca Selengkapnya: 5 langkah penting mengatur uang setelah kamu menabung $50,000
Platform manajemen risiko Point Predictive memperkirakan bahwa pemberi pinjaman mobil menghadapi risiko penipuan sebesar $9.2 miliar di tahun 2025. Sebesar 69% dari itu disebabkan oleh peminjam dan dealer yang memberikan informasi palsu di aplikasi pinjaman, seperti identitas, pekerjaan, atau informasi keuangan.
Penipuan dealer juga bisa berupa skema di mana dealer bekerja sama dengan penipu. Mereka bisa memalsukan dokumen pinjaman atau meninggikan harga mobil, sehingga pemberi pinjaman rugi saat pinjamannya gagal bayar.
Hal ini bisa memaksa pemberi pinjaman dan institusi keuangan untuk membebankan biayanya ke konsumen dalam bentuk suku bunga yang lebih tinggi atau syarat pinjaman yang kurang menguntungkan.
Jika kamu ingin membeli kendaraan, lakukan riset tentang dealer yang akan kamu kunjungi. Periksa apakah mereka terakreditasi oleh Asosiasi Dealer Mobil Independen Nasional (NAIDA), Asosiasi Dealer Mobil Internasional Amerika (AIADA), dan Better Business Bureau (BBB). Baca juga ulasan pelanggan secara online.
Jika kamu mengambil pinjaman mobil, dealer atau pemberi pinjaman wajib memberitahumu detail APR dan cara pembayaran dengan jelas.
Jika kamu khawatir membiayai mobil lewat dealer, coba langsung mendatangi institusi keuangan yang kamu percaya untuk melihat apakah mereka bisa menyetujui pinjaman mobil untukmu.
Jika kamu membeli mobil bekas, periksa nomor identifikasi kendaraan (VIN) dan surat kepemilikannya menggunakan VINCheck dari National Insurance Crime Bureau dan Sistem Informasi Judul Kendaraan Bermotor Nasional (NMVTIS).
Ini akan memberitahumu apakah kendaraan pernah jadi subyek klaim asuransi untuk pencurian, atau apakah perusahaan asuransi melaporkannya sebagai mobil rongsokan. Pertimbangkan untuk meminta laporan CarFax atau AutoCheck, atau beli sendiri laporannya.
Bergabunglah dengan 250.000+ pembaca dan dapatkan cerita terbaik dari Moneywise serta wawancara eksklusif — wawasan jelas yang dikurasi dan dikirim setiap minggu. Berlangganan sekarang.
Kami hanya menggunakan sumber yang diverifikasi dan pelaporan pihak ketiga yang kredible. Untuk detailnya, lihat etika dan panduan editorial kami.
Kementerian Kehakiman AS (1); TransUnion (2); Point Predictive (3); Provenir (4); Patelco Credit Union (5); Cornell Law Institute (6); Consumer Reports (7)
Artikel ini hanya menyediakan informasi dan tidak boleh dianggap sebagai nasihat. Disajikan tanpa garansi apapun.