JAKARTA (ANTARA) – Pemerintah Indonesia sedang berupaya mengamankan sumber alternatif untuk nafta, bahan baku penting plastik, karena ketidakpastian pengiriman mengancam impor dari Timur Tengah, kata Menteri Perdagangan Budi Santoso pada Rabu di Jakarta.
“Perlu ditegaskan bahwa kita mengimpor nafta dari Timur Tengah, dan jika pasokan terhambat, apa yang harus kita lakukan? Kami telah memilih untuk mengidentifikasi sumber alternatif dari negara-negara lain,” ujar Santoso kepada wartawan setelah konferensi pers di Kantor Staf Presiden.
Dia menekankan pentingnya menjamin pasokan nafta yang stabil, hidrokarbon yang dihasilkan dari minyak mentah dan banyak dipakai dalam memproduksi resin plastik, karet, dan pelarut.
Pemerintah sedang berkoordinasi dengan calon mitra di India, Afrika, dan Amerika untuk mendiversifikasi impor.
“Pahami bahwa proses ini akan membutuhkan waktu, mengingat kebutuhan mendadak untuk beralih dari Timur Tengah ke negara-negara di wilayah lain. Kami berharap proses ini berjalan lancar, sehingga harga bisa kembali ke tingkat normal,” tambah Santoso.
Kementerian Perdagangan juga telah membuka komunikasi dengan asosiasi industri dan para profesional, sambil menjaga koordinasi erat dengan perwakilan Indonesia di luar negeri. Mitra regional seperti Singapura, Cina, Korea Selatan, Thailand, dan Taiwan juga terdampak gangguan pasokan ini.
“Kami akan terus berupaya mengamankan bahan baku untuk melindungi aktivitas produksi dalam negeri dan menjamin pasokan plastik yang cukup,” tutup Santoso.
Sementara itu, Korea Selatan telah mengumumkan akan menghentikan ekspor nafta mulai 27 Maret untuk melindungi stok domestik di tengah risiko pasokan global.
Berita terkait: RI, S Korea deepen ties to Special Comprehensive Strategic Partnership
Berita terkait: Russia open to oil sales to Pertamina amid Strait of Hormuz tensions
Penerjemah: Prisca T, Tegar Nurfitra
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Hak Cipta © ANTARA 2026