Dia tidak tau dimana tisu toiletnya. Dia gak tahu siapa nama dokter anak. Dia tidak pernah rencanakan menu makanan, mulai mencuci baju, atau pikir tentang jam jemput anak sekolah. Dan entah kenapa, semua itu tidak dianggap masalah. “Weaponized incompetence”, atau kebiasaan bertindak sangat tidak berdaya sehingga pekerjaan rumah akhirnya dikerjakan orang lain, sudah lama jadi bagian dari kehidupan rumah tangga.
Tapi ekonom Wharton, Corinne Low, sudah bertahun-tahun teliti data yang membuktikan apa yang banyak wanita curigai: ini bukan cuma sifat aneh, kekurangan pribadi, atau kebiasaan buruk pria tertentu. Ini, saat ini, sudah jadi hal yang struktural dan tetap. Dan ini makin parah saat wanita masuk dunia kerja dalam jumlah lebih besar dan penghasilannya lebih banyak daripada pria.
Low, seorang Profesor di Wharton School sejak 2014, adalah penulis buku Having It All: What Data Tells Us About Women’s Lives and Getting the Most Out of Yours. Buku itu menjabarkan risetnya tentang bagaimana pembagian kerja di rumah masih sangat berat di pundak wanita, meskipun penghasilan wanita terus meningkat. Menurut Low, kita sudah lama meninggalkan gambaran istri di rumah menunggu suami pulang kerja, atau tokoh seperti Marge Simpson. Sekarang kita masuk dinamika budaya dimana wanita lebih banyak dapat duit, lebih banyak kerja, dan lebih sukses daripada pasangan prianya, tapi tetap kerja lebih banyak di rumah.
“Waktu pria mengerjakan pekerjaan rumah masih sama seperti tahun 1970-an,” katanya ke Fortune, “dan itu benar baik wanita penghasilannya lebih tinggi atau pria yang lebih tinggi.” Kemandekan itu, menurutnya, adalah alasan utama wanita merasa kemajuan terhambat.
Asumsi dari teori ekonomi klasik adalah jika wanita penghasilannya lebih, keseimbangan kerja rumah akan otomatis terjadi. Penghasilan lebih berarti daya tawar lebih, pikirnya, dan lebih mampu untuk negosiasi pembagian kerja masak, bersih-bersih, cuci baju, urus anak, hewan peliharaan, dan beban mental mengatur rumah tangga. Tapi, kata Low, hal itu tidak berubah meskipun faktor eksternal tenaga kerja sudah berubah.
Bekerja di kantor dan bekerja di rumah
Bahkan saat istri penghasilannya lebih dari suami, dia masih melakukan hampir dua kali lebih banyak masak dan bersih-bersih dibanding pasangannya. Low pakai contoh dari risetnya: sepasang suami istri, si wanita perawat dan prianya supir Uber. Wanita itu penghasilan per jamnya empat kali lebih besar, tapi dia masih beban domestik lebih berat, sementara suaminya kerja lebih lama. “Pemrogramannya ada,” jelas Low, tentang bagaimana ekspektasi gender yang sudah dalam membuat pria menganggap kontribusi sama dengan jam kerja berbayar. “Sebenarnya lebih membantu kalau dia di rumah, jemput anak dari penitipan supaya istrinya bisa ambil shift jaga, dan rumah tangganya secara keseluruhan akan lebih kaya.”
Ada juga perubahan dramatis dalam cara orang tua di Amerika. Waktu untuk mengasuh anak meledak sejak tahun 1990-an, dan bebannya tidak dibagi rata. “Ibu yang kerja sekarang menghabiskan lebih banyak waktu dengan anaknya daripada ibu rumah tangga jaman kita kecil,” katanya. Pria sudah sedikit meningkatkan keterlibatan sebagai orang tua, tapi Low bilang itu tidak sebanding dengan usaha para ibu. Ketika pria bilang mereka sudah mengantar anak atau bacakan cerita sebelum tidur sebagai bukti mereka berkontribusi, datanya menunjukkan cerita yang berbeda. Karena waktu pengasuhan secara keseluruhan naik sangat drastis, “kesenjangan dengan istrinya malah melebar, bukannya menyempit. Tapi untuk pekerjaan rumah rutin yang membosankan, waktu pria tidak berubah sama sekali.”
Sekarang, dengan AI mengubah pasar tenaga kerja dan menggantikan pekerjaan bergaji tinggi yang didominasi pria di bidang teknologi, Low lihat risikonya makin tinggi. Logika rumah tangga lama bahwa ‘dia dapat duit lebih, jadi dia lebih banyak kerja di rumah’ sedang diguncang. Low berpendapat infrastruktur budaya untuk menyerap perubahan itu belum ada. Hasil ini didukung oleh data ekonomi baru yang membuktikan tren ‘stay-at-home boyfriend’ akan terus berlanjut — mungkin secara permanen. Laura Ullrich dari Indeed Hiring Lab baru-baru ini buat laporan yang tunjukkan untuk ketiga kalinya, wanita lebih banyak daripada pria di dunia kerja, dan tidak seperti dua kali sebelumnya, kali ini trennya akan menetap.
Bagi Low, itu mengkhawatirkan karena pria (yang tetap bekerja) memilih peran yang didominasi pria yang mungkin tidak cocok dengan dunia kerja sekarang — dan tetap punya mentalitas yang sama di rumah. “Saya pikir ini masalah eksistensial bagi pria untuk belajar masuk ke peran baru dan benar-benar kontribusi di rumah,” katanya. “Karena tiba-tiba dia (wanita) yang jadi pencari nafkah, tapi dia (pria) bilang dia tidak bisa di dapur, dan tidak tahu dimana tisu toilet. Dia tidak tahu siapa dokter anaknya.”
Ketika Fortune menyamakan komentarnya dengan “weaponized incompetence”, Low, 41 tahun, tidak bisa tidak setuju. Mungkin dia adalah contoh dari Having It All: dia berbicara dengan Fortune saat liburan di Disney World, menjaga bayi 10 bulannya sementara anaknya yang 8 tahun naik wahana bersama istrinya.
Dampak dari “weaponized incompetence” itu, kata Low, terlihat dalam tingkat pernikahan dan kelahiran. Saat daya penghasilan wanita tumbuh, toleransi mereka untuk pembagian kerja rumah yang tidak setara menyusut. “Ketika saya punya gaji sendiri, dan sekarang saya lihat pria yang di-PHK atau pekerjaannya tergantikan, kenapa saya harus terima kalau dia tidak mau berkontribusi di rumah? Itu tidak bisa saya terima,” kata Low.
Yang paling dia khawatirkan adalah saat ini peran ekonomi sedang berubah tanpa diikuti perubahan budaya yang lebih dalam. “Yang saya ingin lihat adalah kita benar-benar membentuk ulang peran gender lebih dalam, bukan hanya mengubah daya penghasilan,” katanya. “Yang bergeser adalah daya penghasilan, tapi peran gender yang lebih dalam sebenarnya tidak dibentuk ulang.” Sampai itu berubah, wanita akan terus melakukan apa yang Low gambarkan sebagai bermain game karier di tingkat kesulitan paling tinggi, tanpa kode curang dan tanpa dukungan di belakang layar yang membuatnya terlihat mudah bagi orang lain.