Sanaa, Yaman – Iran menghadapi kekuatan penuh Amerika Serikat dan Israel, serta melawan balik dengan memanfaatkan segala kartu yang dimilikinya.
Lalu lintas maritim di Selat Hormuz telah lumpuh akibat ancaman-ancaman Iran, memicu guncangan energi global. Sekutu-sekutu Iran di kawasan ini bertempur untuk mendukung Iran, khususnya Hezbollah di Lebanon.
Rekomendasi Cerita
list of 3 items
end of list
Namun, tampaknya ada satu kartu yang belum dimainkan.
Pemberontak Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman, meski telah menunjukkan kemampuan mereka dengan menyerang pengiriman di Laut Merah selama dua tahun setelah dimulainya perang genosida Israel di Gaza, sejauh ini tidak terlibat dalam konflik terkini.
Para pengamat, dan orang Yaman sendiri, bertanya-tanya, sampai kapan?
Pemimpin Houthi Abdul-Malik al-Houthi pernah menyatakan bahwa kelompoknya “siap dalam posisi siaga”, menjanjikan aksi pada waktu yang tepat.
Seorang pejabat militer Iran mengatakan kepada kantor berita semi-resmi Tasnim pada 21 Maret bahwa segala “agresi AS” terhadap fasilitas minyak Iran di Pulau Kharg akan membuka jalan bagi Teheran untuk mendestabilisasi Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb, yang terletak di barat Yaman, di pintu masuk Laut Merah.
Blokade terhadap Bab al-Mandeb, titik tersumbat maritim vital yang menghubungkan Laut Merah ke rute perdagangan global, akan semakin menggoyang pasar energi. Namun, dampak militer, ekonomi, dan kemanusiaan bagi Yaman bisa sama dahsyat dan mahalnya, menurut analis yang berbicara kepada Al Jazeera.
Abdulsalam Mohammed, kepala Pusat Studi dan Penelitian Abaad Yaman, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa jika Houthi terlibat dalam perang untuk mendukung Iran, mereka akan fokus menyerang fasilitas energi dan pelabuhan di negara-negara Teluk, serta mencegah kapal melintasi Bab al-Mandeb.
Mohammed menyatakan bahwa efek dari langkah demikian akan memicu kebangkitan kembali konflik internal Yaman.
“Bentrokan di garis depan [Yaman] siap menyala kembali, berpotensi membuka babak baru perang antara Houthi dan pasukan Yaman yang pro-pemerintah,” ujar Mohammed.
Kedua pihak sebelumnya bertempur dalam perang tujuh tahun, yang efektif terhenti pada April 2022 setelah mereka menandatangani gencatan senjata yang didukung PBB.
Tapi pasukan anti-Houthi di Yaman mungkin akan menyergap peluang jika sekutu Iran itu dilemahkan oleh serangan asing atau terkebih oleh konflik, untuk kemudian melancarkan pertempuran mereka sendiri.
Tahun lalu, AS dan Israel melakukan serangkaian serangan udara di wilayah Yaman yang dikuasai Houthi, membunuh beberapa pemimpin politik dan militer di Sanaa, ibu kota yang dikontrol Houthi.
Tetapi pada bulan Mei, Houthi dan AS menyepakati gencatan senjata, yang termasuk kesepakatan Houthi untuk menghentikan serangan terhadap pengiriman AS di Laut Merah. Kelompok itu kemudian menghentikan serangan terhadap Israel dan kapal-kapal terafiliasi Israel setelah kesepakatan gencatan Gaza bulan Oktober.
Mohammed, sang analis, kini meyakini bahwa kesepakatan Houthi-AS berada di ambang kehancuran. Dan jika itu terjadi, ia mengatakan bahwa kebangkitan kembali perang darat di Yaman sangat mungkin terjadi.
“Kini, kesiapan militer pasukan pemerintah Yaman tampaknya lebih baik, terutama setelah mereka menstabilkan situasi di Yaman Selatan. Selain itu, pasukan Yaman pro-pemerintah akan mendapatkan dukungan asing, khususnya dari AS dan Arab Saudi, jika mereka memulai pertempuran baru melawan Houthi.”
Pada awal tahun ini, pemerintah Yaman, yang didukung Arab Saudi, kembali menguasai Aden dan provinsi-provinsi selatan lainnya, mengakhiri pertikaian selama bertahun-tahun dengan kelompok separatis yang menginginkan negara merdeka di Yaman selatan. Perkembangan ini memunculkan kepercayaan diri baru di dalam pemerintah Yaman, yang kini meyakini dapat berkonsolidasi dan pada akhirnya membawa pertempuran kepada Houthi.
Dampak Ekonomi
Eskalasi apa pun di Bab al-Mandeb akan mempersulit pergerakan bahan bakar dan barang dari kawasan tersebut, memperberat masalah ekonomi global yang ditimbulkan oleh perang AS-Israel terhadap Iran.
Tapi hal itu juga akan menjadi “pukulan berat” bagi ekonomi Yaman, kata Mustafa Nasr, kepala Pusat Studi dan Media Ekonomi, kepada Al Jazeera.
“Yaman bergantung pada impor untuk bensin, solar, dan komoditas pangan. Kekacauan di jalur air lepas pantai negara itu akan mengganggu operasi pengiriman, yang dapat berujung pada kenaikan harga secara langsung. Tanpa substitusi, warga sipil Yaman yang akan menanggung beban terberat,” ujar Nasr.
Pedagang di Yaman baru-baru ini menyebutkan bahwa perusahaan pelayaran internasional telah menginformasikan kepada importir mengenai biaya tambahan “risiko perang” sebesar $3.000 untuk setiap kontainer yang ditujukan ke Yaman di tengah perang yang berlanjut di Iran.
Biaya-biaya itu telah dikenakan meskipun Bab al-Mandeb saat ini aman untuk dilalui kapal.
“Ketika jalur ini menjadi medan perang yang efektif, repercusi bagi populasi lokal akan lebih keras. Akan ada kenaikan harga bahan bakar, kenaikan biaya pengiriman, dan kenaikan biaya asuransi. Itu akan membentuk tragedi serius bagi penduduk,” kata Nasr.
Dia menunjukkan bahwa ketidakstabilan di Bab al-Mandeb juga akan merugikan ekonomi negara-negara Arab Teluk, yang pada gilirannya akan berdampak besar bagi Yaman.
Nasr menambahkan, “Saat ini, negara Yaman [pemerintah Yaman yang diakui secara internasional] bergantung pada dukungan keuangan Arab Saudi. Semakin lama perang ini berlangsung, semakin besar kerugian yang akan dialami ekonomi-ekonomi Teluk. Ini pasti akan menggagalkan perekonomian Yaman.”
Yaman bergantung pada impor untuk memenuhi permintaan domestik akan makanan dan barang-barang penting lainnya, dengan sekitar 85 persen pasokan pangannya berasal dari luar negeri.
‘Yang Lapar Akan Semakin Kelaparan’
Laila, seorang lulusan universitas berusia 26 tahun yang menjadi relawan dalam inisiatif kemanusiaan lokal di Sanaa, mengatakan bahwa setiap eskalasi konflik regional yang melibatkan Yaman “hanya akan membuat yang lapar semakin kelaparan”.
“Ambil contoh, keluarga beranggotakan empat orang dapat hidup dengan tiga dolar sehari. Tapi jika ongkos transportasi naik dan harga barang melonjak karena risiko pengiriman, tiga dolar itu tidak bisa lagi melindungi keluarga ini dari kelaparan,” kata Laila kepada Al Jazeera.
Laila menyatakan menentang segala langkah yang dapat membahayakan keamanan pengiriman di Bab al-Mandeb. Ia menggambarkan tidak keterlibatan Houthi dalam perang selama empat pekan terakhir sebagai “bijaksana” dan berharap kelompok itu tidak akan terseret ke dalam “lingkaran konflik”.
“Keterlibatan Houthi dalam perang Iran bisa menjadi sakit kepala bagi AS dan Israel. Namun, dampak kemanusiaannya di Yaman akan sangat menyakitkan.” “Mengganggu jalur pengiriman dan memblokade pelabuhan adalah resep untuk memperparah kelaparan di sini,” ujarnya.
Yaman merupakan negara termiskin di Timur Tengah, dan PBB sebelumnya mendeskripsikannya sebagai krisis kemanusiaan terparah di dunia.
Samiha Awad Bataher, seorang koordinator kesehatan dari International Rescue Committee, menulis dalam [artikel opini terkini](https://www.aljazeera.com/opinions/2026/3/14/hunger-is-looming-over-yemen-urgent-action-is-needed) untuk Al Jazeera bahwa sementara perhatian internasional terfokus pada konflik di Iran dan dampak regionalnya, sebuah krisis dahsyat di Yaman hampir tak tersorot.
Ia menambahkan, “Bagi banyak keluarga [di Yaman], santapam telah berubah menjadi jatah harian roti dan air. Bagi yang lain, orang dewasa rela tidak makan agar anak-anak mereka bisa menyantap.”
Pada Senin, Jorge Moreira da Silva, Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Direktur Eksekutif UNOPS, memperingatkan bahwa blokade di Selat Hormuz akan memperburuk situasi di negara-negara yang dilanda kelaparan, termasuk Sudan, Sudan Selatan, Afganistan, Yaman, dan Somalia.
Ia menyatakan dalam sebuah pernyataan, “Gangguan di Selat Hormuz membahayakan pengiriman pasokan energi. Pasar pupuk terdampak, mengancam ketahanan pangan di negara-negara dengan tingkat kelaparan atau kerawanan pangan tertinggi.”
Konflik apapun juga kemungkinan akan semakin membatasi kerja organisasi kemanusiaan internasional di wilayah yang dikontrol Houthi, yang sudah harus menarik personil dalam bulan-bulan terakhir setelah [kampanye penangkapan](https://www.aljazeera.com/news/2025/12/18/houthis-detain-10-more-united-nations-staff-in-yemen-bringing-total-to-69) oleh Houthi terhadap staf PBB dan pekerja bantuan kemanusiaan.
### PHK dan Kenaikan Harga
Di Yaman, krisis bahan bakar dan pangan bisa sama mematikannya dengan serangan udara, karena memengaruhi warga sipil di seluruh negeri, memicu bencana ekonomi dan kemanusiaan.
Saleh Ahmed, seorang warga Sanaa berusia 50 tahun, rutin mengikuti berita perang di Iran, khususnya mengenai Selat Hormuz. Ahmed, seorang sopir bus, khawatir penutupan Hormuz bisa menjadi pendahuluan bagi penutupan Bab al-Mandeb.
Ia menjelaskan alasan kekhawatirannya, “Begitu Bab al-Mandeb tersulut perang, bahan bakar akan lenyap dari SPBU di Sanaa, dan penjualan pasar gelap akan dimulai. Artinya saya tidak akan bisa mengoperasikan bus kapan pun diperlukan.”
“Bagi saya, ini akan menjadi masalah ganda: Kelangkaan bahan bakar akan menghambat pekerjaan saya, dan harga kebutuhan pokok yang melambung akan menjadi beban keuangan yang tak tertahankan,” tambahnya.
Ketika AS dan Israel mulai menyerang Iran bulan lalu, Ahmed dan ratusan pemilik kendaraan bergegas ke SPBU.
Namun, setelah adanya jaminan dari otoritas Houthi di Sanaa bahwa pasokan stabil, ia mengatakan masyarakat berhenti panik. Namun, hal itu mungkin tidak berlaku jika Houthi benar-benar terlibat dalam konflik.
“Jika Bab al-Mandeb jatuh dalam kekacauan, akan sulit meyakinkan kami,” kata Ahmed. “Krisis bahan bakar akan meledak, dan harga-harga akan naik. Kami akan menjadi korban pertama.”