Untuk Perkembangan Psikologis yang Optimal

Jumat, 27 Maret 2026 – 18:30 WIB

Jakarta, VIVA – Kebijakan pemerintah yang akan membatasi penggunaan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun mulai 28 Maret 2026, disambut baik oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Kebijakan ini merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS), serta Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026.

Dalam aturan itu, akun media sosial milik anak di bawah 16 tahun akan dinonaktifkan sebagai bagian dari upaya melindungi perkembangan anak.

Wakil Ketua Umum DPP PSI, Isyana Bagoes Oka, menilai langkah ini sebagai kebijakan penting untuk menjaga kesehatan psikologis anak di tengah banyaknya konten negatif di dunia digital.

“Kebijakan ini merupakan langkah penting dan penuh empati untuk melindungi masa depan anak-anak kita. Ini upaya sistematis dan terlembaga untuk memberikan hak kepada anak agar tumbuh di lingkungan yang aman secara psikologis,” kata Isyana, Jumat (27/3).

Ia menjelaskan, fase pra-remaja adalah periode krusial dalam pembentukan karakter dan jati diri seorang anak. Karena itu, paparan konten yang tidak sesuai perlu dibatasi sejak dini.

“Pada masa tersebut, membatasi paparan yang tidak sehat seperti konten seksual atau kekerasan, perundungan siber (cyberbullying), akan membantu anak tumbuh lebih sehat,” tutur Isyana.

Menurutnya, tanpa kehadiran media sosial, anak-anak justru memiliki ruang lebih luas untuk membangun interaksi sosial secara langsung dengan lingkungan sekitar.

“Di lingkungan nyata, mereka bisa menempa empati dan mengasah keterampilan sosial,” ujar Isyana.

PSI pun meyakini kebijakan ini menjadi langkah awal untuk melindungi anak dari konten yang tidak sesuai dengan usia serta mencegah kecanduan gadget.

MEMBACA  Kontroversi-kontroversi Habib Bahar dan Pasangan yang Terlibat dalam Aktivitas Esek-esek Saat Mengemudi

“Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto hadir untuk melindungi anak Indonesia. Keluarga dan sekolah membantu. Media sosial bisa menunggu, masa depan anak tidak. Ingat TUNAS atau tunggu anak siap. Ini semua demi mencapai Generasi Emas 2045,” kata dia lagi.

Tinggalkan komentar