Kamis, 26 Maret 2026 – 05:10 WIB
Manchester, VIVA – Kepergian seorang bintang besar selalu tinggalkan ruang kosong. Tapi ketika yang pergi adalah pemain yang hampir satu dekade menjadi wajah klub, dampaknya jauh lebih besar dari sekedar kehilangan di lapangan. Itu yang sekarang dirasakan Liverpool FC setelah Mohamed Salah memastikan akan tinggalkan Anfield di akhir musim.
Pengumuman ini bukan cuma menandai akhir perjalanan sembilan tahun Salah di Merseyside, tapi juga buka kembali debat lama yang tak pernah selesai: siapa pemain terbaik sepanjang sejarah Premier League?
Salah, yang datang dari AS Roma pada 2017, tidak hanya cetak gol demi gol. Ia bangun ulang identitas Liverpool sebagai kekuatan besar. Dari klub yang lama haus gelar liga, Liverpool berubah jadi juara Eropa dan kembali rajai Inggris. Dalam proses itu, Salah selalu jadi pusat cerita.
“Sayangnya, hari itu akhirnya datang,” kata Salah dalam pernyataan perpisahannya.
“Saya tidak pernah bayangkan klub ini, kota ini, dan orang-orangnya akan menjadi bagian yang begitu dalam di hidup saya,” sambungnya.
Secara statistik, Salah sudah tempatkan dirinya di jajaran elite. Ratusan gol, deretan penghargaan individu, sampai peran vital dalam gelar Liga Champions 2019 dan dua trofi Premier League jadi bukti nyata.
Tapi dalam menilai “yang terhebat”, angka saja tak cukup. Ada faktor lain yang lebih susah diukur: pengaruh terhadap tim. Di sinilah Salah punya keunggulan. Ia bukan cuma bagian dari sistem, tapi jadi fondasi dari sistem itu sendiri, terutama di era Jürgen Klopp.
Dibandingkan dengan Para Legenda
Nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo, Thierry Henry, sampai Kevin De Bruyne selalu masuk dalam diskusi pemain terbaik Premier League. Tapi masing-masing punya konteks yang beda.
Ronaldo capai puncak luar biasa bersama Manchester United, tapi periode dominasinya di Inggris relatif singkat sebelum ia lanjutkan karir ke level global.
Henry, ikon Arsenal FC, dikenal sebagai penyerang paling elegan dan mematikan di eranya. Tapi ia datang ke tim yang sudah ada di jalur juara di bawah Arsène Wenger.
Sementara De Bruyne adalah otak permainan Manchester City dalam satu dekade terakhir, tapi sering diganggu masalah kebugaran yang bikin dia absen di banyak pertandingan penting.