Selama empat tahun terakhir, BTS menjadi sesuatu yang dinikmati penggemar internasional dari kejauhan, sementara para personel menjalani wajib militer di Korea Selatan. Di sela itu, mereka menggarap proyek solo dan tur secara individual, sementara grup itu sendiri tetap hidup melalui siaran langsung arsip dan unggahan media sosial.
Pada Senin malam di New York City, mereka kembali tampil sebagai tujuh orang.
Menjelang sore, penggemar telah berbaris di sepanjang Seaport, terbungkus jakat dan poncho hujan, menanti BTS naik panggung di Pier 17. Kepulangan grup ini ke AS bukanlah kejutan. Itu adalah momen yang telah dilacak, dinantikan, dan dihitung mundur oleh penggemar. Namun, energinya tetap terasa tak nyata ketika benar-benar terjadi.
Beberapa hari setelah konser comeback besar mereka menarik puluhan ribu penggemar ke pusat Seoul, BTS tiba di New York untuk *Spotify x BTS: Swimside*, acara khusus undangan yang menandai penampilan publik pertama mereka di AS sebagai grup lengkap sejak 2022. Ini juga menjadi kali pertama mereka membawakan lagu dari album baru, *Arirang*, di Amerika.
Lokasi berperan besar. Pier 17 menghadap ke East River, dengan Brooklyn Bridge membentang di satu sisi dan Manhattan bagian bawah menyala di sisi lain. Bahkan dalam hawa dingin, dengan angin menyapu atap dan suhu turun hingga sekitar 1°C, ratusan penggemar memadati tempat itu, banyak yang terpilih sebagai *top Spotify streamer* di wilayah tersebut. Bahkan produser Diplo terlihat di kerumunan.
Manajer sosial Mashable di lokasi mengabadikan suasana yang terbentang. Penggemar saling menukar *freebie*, membandingkan spanduk, dan mendokumentasikan segalanya secara *real-time* di media sosial. Malam itu sudah terlihat seperti sesuatu yang dibuat untuk *timeline*. Bedanya, semua orang benar-benar hadir secara fisik.
Acara dibuka dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori Suki Waterhouse, membawa grup ini ke dalam suasana yang lebih santai dan konversasional. BTS berbicara tentang proses pembuatan *Arirang*, termasuk pengalaman tinggal bersama lagi di satu rumah saat merekam di Los Angeles selama dua bulan.
“‘Swim’ adalah lagu yang sangat spesial bagi kami,” kata Jin melalui penerjemah, menggambarkan singel utama itu sebagai pengingat untuk terus berjalan melawan ketidakpastian. “Ini tentang tidak berhenti, bahkan ketika menghadapi masa sulit dan gelombang emosi, untuk terus bergerak maju seperti berenang melewatinya… Ini mengingatkan kami untuk mencintai hidup dan menerima apapun yang datang, jadi itulah pesannya: Kami ingin terus bergerak maju dan tidak menyerah.”
Percakapan pun cepat mencair. RM bercanda tentang koper Jung Kook yang tidak pernah berpindah dari lantai selama mereka tinggal bersama. “Setiap kali kami masuk kamarnya, kami harus melangkahi koper itu,” jelas sang leader. Suga mengaku tidak suka berenang. (Tapi yang penting, dia suka “Swim.”) Jimin, menjawab pertanyaan tentang kebiasaan di rumah, dengan santai mengatakan kepada kerumunan bahwa dia biasanya telanjang saat masuk pintu, membuat penonton heboh.
Grup ini juga berbagi detail pembuatan album, termasuk lirik khas dari “Hooligan” — “ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha, hooligan” — yang diakui RM dan Suga mereka benci tampilkan karena iramanya yang rumit. Mereka memecahnya sebagai ritme *rapid-fire* “tiga-tiga-tiga”, lalu menyuruh Jung Kook mencobanya. Dia hampir berhasil, seperti yang diharapkan dari *maknae* emas grup ini.
Sesi tanya jawab keseluruhan bernada seperti siaran langsung, tapi lebih keras. Langsung. Tidak tersaring dengan cara yang hanya berhasil ketika ribuan orang bereaksi bersamaan.
Selama intermesi singkat, penggemar membuktikan betapa terikatnya mereka. *Arirang* baru dirilis tiga hari, namun kerumunan menyanyi bersama setiap lagu yang diputar di speaker, *lightstick* bergerak serempak.
Ketika BTS kembali ke panggung, fokus langsung terbentuk.
Grup ini membawakan “Swim,” “2.0,” dan “Normal,” menandai penampilan langsung pertama mereka di AS untuk album baru tersebut. Tata panggungnya sederhana, tetapi responsnya tidak. Penggemar melompat, berteriak, ha-ha-ha-ha, dan menggerakkan Army Bomb mereka di setiap *beat drop*.
Credit: Kevin Mazur/Getty Images for Spotify RM, yang duduk di pinggir panggung karena keseleo pergelangan kaki, melantunkan bait-bait syairnya sementara anggota lain menarikan koreografi.
Kredit: Kevin Mazur/Getty Images for Spotify
“Sungguh suatu kehormatan bagi kami untuk tampil pertama kali di Amerika di sini,” ujar RM kepada para penonton. “Sudah empat tahun, tapi kini kami benar-benar hadir.”
Di antara penonton, para penggemar mengangkat tanda berwarna merah bertuliskan “Kami Tetap Menanti!” Gestur sederhana, namun sarat makna setelah masa hiatus grup tersebut. V langsung menyadarinya dan berseru kepada kerumunan sebagai bentuk pengakuan.
Menjelang akhir acara, suasana terasa bukan sekadar pertunjukan tunggal, melainkan lebih seperti titik awal yang baru. BTS kembali berada di AS, membawakan musik terbaru, berdiri di hadapan penggemar yang tak pernah pergi.
Selama bertahun-tahun, hubungan itu lebih banyak terjalin secara daring. Melalui streaming, klip, dan berbagai pembaruan yang mengisi kekosongan saat grup tersebut beristirahat. Di Pier 17, semuanya terasa berbeda. Meski tetap terekam dan akan menghiasi berbagai *feed*, namun kali ini lebih terasa nyata dan langsung.
Bukan sekadar tontonan. Melainkan sesuatu yang harus dialami sendiri.