Senin, 23 Maret 2026 – 07:00 WIB
VIVA – Iran menyatakan akan menghancurkan secara permanen infrastruktur penting di seluruh Timur Tengah jika Amerika Serikat menyerang fasilitas energinya. Pernyataan ini muncul beberapa jam setelah Donald Trump mengancam akan meluluhlantakkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam waktu 48 jam.
AS Telah Serang 8.000 Militer Iran, Termasuk 130 Kapal
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Minggu mengatakan bahwa infrastruktur vital, termasuk sektor energi dan minyak di kawasan itu akan menjadi target sah jika fasilitas Iran lebih dulu diserang, begitulah pernyataannya seperti dikutip dari laman The Guardian, Senin 23 Maret 2026.
Media pemerintah Iran juga mengutip juru bicara militer, menyatakan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas energi Iran akan dibalas dengan serangan ke aset energi milik AS dan Israel di kawasan, termasuk fasilitas teknologi informasi dan instalasi desalinasi air.
Harga BBM di Sri Lanka Naik 25 Persen Akibat Perang Iran, Bensin Rp22 Ribu per Liter
Seperti diketahui Sabtu kemarin, Presiden AS memberi waktu 48 jam kepada Iran hingga menjelang tengah malam GMT pada Senin untuk membuka Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak dunia. Jika tidak, AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.
Sementara itu, menurut perwakilan Iran untuk Organisasi Maritim Internasional, Ali Mousavi, menyatakan pada Minggu bahwa Selat Hormuz sebenarnya terbuka untuk semua kapal, kecuali yang terkait dengan musuh Iran, dan pelayaran tetap bisa dilakukan dengan koordinasi keamanan bersama Teheran.
Menlu Iran Araghchi Ucapkan Selamat Idul Fitri ke RI: Terima Kasih Kecam Agresi Brutal AS-Israel
Namun, pada praktiknya serangan Iran membuat selat tersebut nyaris tertutup. Padahal, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur ini. Situasi ini memicu krisis minyak terburuk sejak 1970-an dan membuat harga gas di Eropa melonjak hingga 35% dalam sepekan terakhir.
Eskalasi Makin Meningkat
Sejak 28 Februari, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan menyerang target di Israel dan negara-negara Teluk. Lebanon ikut terseret setelah kelompok Hezbollah yang didukung Iran menyerang Israel.
Sirene serangan udara berbunyi di seluruh Israel sejak dini hari Minggu, memperingatkan datangnya rudal Iran. Serangan malam sebelumnya melukai puluhan orang di dua kota selatan, Arad dan Dimona.
Halaman Selanjutnya
Militer Israel pada Minggu pagi menyatakan akan membalas dengan menyerang Teheran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, saat mengunjungi Arad, mengatakan para komandan senior Garda Revolusi Iran akan diburu secara pribadi.